Hai. . .
Setelah enam tahun berlalu, cerita yang baru saja dibuat terpaksa harus diberhentikan karena jalan yang Maha Kuasa. Sudah disimpan draftnya, masih teringat untuk tersenyum saat mengetiknya, sudah di rencanakan rentetan publikasinya, sang tokoh utama pergi. Kata terakhir yang sama--sekali tak pernah kami ingini. Satu-satunya tak hanya pertemuan tapi sebuah perpisahan yang indah. Merengut semua hal dari diri yang ditinggalkan. Hingga diri yang ditinggalkan memaksa menutup memori tentang dirinya. Dia terlahir kembali dengan wujud yang sama tapi tidak akan pernah dengan batin yang sama, lagi.
Sudah enam tahun berlalu. . . .
Selama itu pula, berupaya meninggalkannya dalam tulisan. Tapi semua tulisan lenyap, memikirkan saat bahagiapun malah lebih menyakitkan.
Ikhlas, sering diri bertanya mengapa sungguh sulit untuk dianugerahi rasa itu?
Sadar, diri seperti tiada bertuhan. Tapi tetap, beribu ampun dipanjatkan, diri masih saja meletakkan timbangan orang lain diatas timbangan si tokoh utama.
Betapa timbangan itu sungguh berat, berapa banyak hati yang harus dikasihani sementara diri bukan ruby ataupun safir.
Menemukannya yang menerima apa adanya, enam tahun masih tak cukup menyetarakan timbangan itu.
Hingga kini diri berserah, siapapun ia, rasanya berpura bahagia seumur hidup pun akan dijalani. Membandingkan ia yang telah tiada dengan ia yang masih bernyawa adalah kegilaan yang akan menebalkan batu penghalang dalam jalan diri yang masih bernyawa.
Awak. . . .
Bukan aku tak mencintaimu dengan segala upaya, aku membenci diri sendiri dalam waktu tak hingga, aku terasa tak beriman dan terlahir kembali untuk tak mampu mencapai ekpektasi mereka seperti dahulu, aku memberontak, kelembutan dan keceriaan yang engkau suka telah kubunuh. Kutinggalkan di kubur waktu itu. . . .
Menunggu seseorang untuk memahami ini semua, sama saja aku masih meletakkan mereka di atas timbanganmu.
Ikhlas....
Semoga aku menemukan ia, sehingga ia tidak akan terluka dengan tulisan ini.
Semoga aku menemukan ia, sehingga aku dapat menunaikan pesan terakhirmu, untuk menjaga diri dan hidup dengan baik-baik saja.
Aku mencintaimu.
Kini aku tak ingin lagi mengucapkannya untukmu, selain memang karena aku tak bisa. Kata-kata itu akan menjadi pemilik ia yang ikhlas nantinya.
Hai, kamu yang dihadiahi dengan zat indah bernama ikhlas.
Aku tau, jika aku yang harus ada disisimu, aku tak akan bisa.
Aku tak mengenalnya, zat indah yang engkau punya.
Aku masih akan berupaya meninggalkan ia dalam tulisan, meskipun aku telah bersamamu.
Biarlah Allah yang tahu bagaimana aku mengharap surga diatas patuhku padamu nantinya.
Janganlah cemburu, karena kita tak akan mampu menyelesaikannya.
Ia pernah kucintai, tapi Allah lebih mencintainya.
Kini, mari kita saling mencintai, hingga "aku mencintaimu" bukan hanya kata-kata.
Sehingga kita tidak akan perlu mencari lagi siapa pemenangnya.
Karena, tulisanku tiadalah apa, dibanding tulisan-Nya yang menuliskan keindahan dalam bentuk engkau.
Aku mencintaimu,
ajarkan aku mereguk pahala dalam tiap cinta yang kita bangun.
Aku mencintaimu,
jika aku bersalah, jangan tinggalkan
Aku mencintaimu,
ditinggalkan adalah nerakaku
Aku mencintaimu,
bimbing aku, untuk menjadi ladang pahalamu.
Aku mencintaimu,
maaf untuk hati yang ntah bila kan sembuh
Aku mencintaimu,
aku tidak akan memintamu untuk menyembuhkannya.
Aku mencintaimu,
Karena kehadiranmu adalah penyembuh atas ujiannku dari-Nya.
Aku mencintaimu,
wahai jiwa yang berbalut keindahan bernama ikhlas.