Sabtu, 12 Juni 2021

A K U M E N C I N T A I M U

Hai. . .

Setelah enam tahun berlalu, cerita yang baru saja dibuat terpaksa harus diberhentikan karena jalan yang Maha Kuasa. Sudah disimpan draftnya, masih teringat untuk tersenyum saat mengetiknya, sudah di rencanakan rentetan publikasinya, sang tokoh utama pergi. Kata terakhir yang sama--sekali tak pernah kami ingini. Satu-satunya tak hanya pertemuan tapi sebuah perpisahan yang indah. Merengut semua hal dari diri yang ditinggalkan. Hingga diri yang ditinggalkan memaksa menutup memori tentang dirinya. Dia terlahir kembali dengan wujud yang sama tapi tidak akan pernah dengan batin yang sama, lagi.  

Sudah enam tahun berlalu. . . .

Selama itu pula, berupaya meninggalkannya dalam tulisan. Tapi semua tulisan lenyap, memikirkan saat bahagiapun malah lebih menyakitkan. 

Ikhlas, sering diri bertanya mengapa sungguh sulit untuk dianugerahi rasa itu?

Sadar, diri seperti tiada bertuhan. Tapi tetap, beribu ampun dipanjatkan, diri masih saja meletakkan timbangan orang lain diatas timbangan si tokoh utama. 

Betapa timbangan itu sungguh berat, berapa banyak hati yang harus dikasihani sementara diri bukan ruby ataupun safir. 

Menemukannya yang menerima apa adanya, enam tahun masih tak cukup menyetarakan timbangan itu.

Hingga kini diri berserah, siapapun ia, rasanya berpura bahagia seumur hidup pun akan dijalani. Membandingkan ia yang telah tiada dengan ia yang masih bernyawa adalah kegilaan yang akan menebalkan batu penghalang dalam jalan diri yang masih bernyawa. 

Awak. . . .

Bukan aku tak mencintaimu dengan segala upaya, aku membenci diri sendiri dalam waktu tak hingga, aku terasa tak beriman dan terlahir kembali untuk tak mampu mencapai ekpektasi mereka seperti dahulu, aku memberontak, kelembutan dan keceriaan yang engkau suka telah kubunuh. Kutinggalkan di kubur waktu itu. . . .

Menunggu seseorang untuk memahami ini semua, sama saja aku masih meletakkan mereka di atas timbanganmu.

Ikhlas....

Semoga aku menemukan ia, sehingga ia tidak akan terluka dengan tulisan ini. 

Semoga aku menemukan ia, sehingga aku dapat menunaikan pesan terakhirmu, untuk menjaga diri dan hidup dengan baik-baik saja. 

Aku mencintaimu. 

Kini aku tak ingin lagi mengucapkannya untukmu, selain memang karena aku tak bisa. Kata-kata itu akan menjadi pemilik ia yang ikhlas nantinya.

Hai, kamu yang dihadiahi dengan zat indah bernama ikhlas.

Aku tau, jika aku yang harus ada disisimu, aku tak akan bisa. 

Aku tak mengenalnya, zat indah yang engkau punya. 

Aku masih akan berupaya meninggalkan ia dalam tulisan, meskipun aku telah bersamamu. 

Biarlah Allah yang tahu bagaimana aku mengharap surga diatas patuhku padamu nantinya. 

Janganlah cemburu, karena kita tak akan mampu menyelesaikannya. 

Ia pernah kucintai, tapi Allah lebih mencintainya. 

Kini, mari kita saling mencintai, hingga "aku mencintaimu" bukan hanya kata-kata. 

Sehingga kita tidak akan perlu mencari lagi siapa pemenangnya. 

Karena, tulisanku tiadalah apa, dibanding tulisan-Nya yang menuliskan keindahan dalam bentuk engkau. 

Aku mencintaimu, 

ajarkan aku mereguk pahala dalam tiap cinta yang kita bangun. 

Aku mencintaimu, 

jika aku bersalah, jangan tinggalkan

Aku mencintaimu,

ditinggalkan adalah nerakaku

Aku mencintaimu,

bimbing aku, untuk menjadi ladang pahalamu.

Aku mencintaimu,

maaf untuk hati yang ntah bila kan sembuh

Aku mencintaimu,

aku tidak akan memintamu untuk menyembuhkannya.

Aku mencintaimu,

Karena kehadiranmu adalah penyembuh atas ujiannku dari-Nya. 

Aku mencintaimu, 

wahai jiwa yang berbalut keindahan bernama ikhlas. 

Kamis, 18 Juni 2015

Kampus

Hari itu menjelang tengah hari aku menemui temanku, Ana di rumah keponakannya. Percakapan pun berlangsung dengan penyataan darinya, bahwa salah satu keponakannya adalah seniorku. Aku yang saat itu adalah mahasiswa baru, tak ambil pusing saat dia menyebutkan siapa nama keponakannya itu. Tapi sifat penasaranku, tak pernah hilang. Aku bertanya pada seniorku yang lain yang mana orangnya. Ternyata !
Ah, dia satu-satunya abang-abang menakutkan yang tak berani kupandang. Sempat berpas-pas an beberapa kali, dia tak tersenyum, tak bersuara, caranya memandang begitu seram. Aaah… disaat itu suasana sedang panas-panasnya karena angkatanku membuat ulah mencari emosi para senior lainnya. Bagaimana aku tak semakin takut, aku memang berusaha untuk terlihat sopan mengangguk seperti biasanya. Tapi beliau? Ah sudahlah, terlalu menyeramkan.

Keesokan harinya, aku kebagian jadwal pagi. Sebagai murid baru hari itu aku terlambat meskipun kampus masih sepi. Saat aku berbelok dari gang, dan…. Aku berhenti berlari dan terdiam. Apa yang ada di depan ku membuat ketakutan karena terlambat terlupa beberapa detik. Aku menarik nafas, ada sosok yang sedang sibuk memasang sepatunya. Dia belum melihatku, dalam detik itu aku harus putuskan apa aku berbalik atau bagaimana. Saat keputusan berbalik adalah yang terbaik, ah sial ! dia memandangku.
Baiklah, jika berlari adalah hal bodoh, mengapa tak kulanjutkan saja langkahku. Setelah sesama menatap dalam beberapa detik ku tundukan pandangku terus berjalan. Dia masih saja menatap ku tanpa suara. Menakutkan ! lagi-lagi itu yang ada dibenakku. Saat dua langkah lagi sampai di depannya.

“Pagi, dek”

Allah ! aku terdiam, aku memandangnya kikuk. Aku tak percaya suara tadi itu berasal dari dia.

“Eh, ha, pagi Bang” rupanya otak ku masih bekerja juga. Baru berencana meneruskan langkah..

“Masuk apa?”

Aku terpaksa kembali berbalik sambil menarik nafas.

“Ha, eh, sama Mam Desri bang, Pronunciation.”

“oh, eh Mam Desri di D4 kalau tak salah abang lihat”

Itu berarti aku harus kembali lewat di depan dia. Ide buruk.

“ha, eh iya ya bang? Okelah makasi bang.”

“iya dek sama-sama”

Itu senyum? Ha itu senyum? Iya, itu senyum !

Sesampainya di kelas.
“Haaaaah !” Aku seperti bernafas kembali.

“Ngapa, Nda?” tanya Dilla teman di sebelahku.

“Ha? Eh, capek kan abis lari dari parkiran hehe.”

Tidak mungkin ku ceritakan peristiwa bodoh keterkejutanku tadi. Tiba-tiba aku tersadar, tadi yang menyapa duluan adalah dia. Dia kan. . . senior berarti…

“Damn ! Gue junior kurang ajar -____-“ Umpatku dalam hati. 


Ini pasti permintaan Ana, karena ku katakan keponakannya itu seram, seperti tentara. 

Opening... PRIA KU !

Ini 2015 ! 


Siang hari menjelang sore, aku berkeringat. Hari itu H-1 menjelang acara besar prodi kampusku, dimana aku tak hanya melatih tapi akan tampil menari mengisi acara pembukaan. Ada seorang pria yang sejak tiga bulan yang lalu sepintas-sepintas “merayuku” dengan becanda seperti pria lainnya. Sepintas, cukup dengan 3 atau 4 baris chat namun itu cukup menyegarkan benakku yang kusut menghadapi seorang lelaki yang saat itu kami saling menggilai yah mungkin bisa beri penekanan pada kata “kami” karena aku tak yakin disitu ada “kami”. 
Hari itu, hari ketiga setelah aku mengusaikan cerita abstrak dengan lelaki itu.

“O, jadi ternyata dia dipanggil abang-abang penebar pesona di kampusnya :D” 

Ketikku pada layar blackberry messenger (BBM), yang kumaksud adalah lelaki yang beberapa hari lalu kusudahi cerita dengannya. Lalu, pria yang “merayuku” tadi seperti sebelum-sebelumnya kembali “merayuku”.

“Jadi, maafkanlah abang jika abang dipanggil begitu ya, Dinda marah? :D hahaha”

Begitu commentnya, aku tersenyum (seperti sebelumnya) lalu membalas singkat.

“haha, bukan abang do baaaang :D”

“eh, abang kira abang pulak tadi kan :D”

Aku (masih seperti sebelumnya) selalu membalas agar posisi kami tetap dalam tawa.

“abang tak perlu tebar pesona pun adek dah meleleh liat abang :D”
 
aku tertawa sendiri melihat apa saja yang baru aku tulis dan kukirim padanya. 

Balasan ! dia tertawa…

“aih, adek ni paling pandai buat abang tersipu :$ :D hahaha”

Aku read saja, seperti biasa tak pernah kubawa pada percakapan yang panjang. Anehnya aku tertawa, waktu istirahat itupun seperti ada energi baru yang masuk padaku. Ah, sudahlah ! ini bukan apa-apa. Hari itu kututup dengan malam yang masih mengganggu antara penampilanku dengan bayang-bayang percakapan pria tiga hari lalu.

. . . . .

Pariwara

Biar aku perjelas dahulu, bahwa penari dan lukisan penyair itu sudah lama tak ada. Eh, aku mengatakannya tak pernah ada. Sekarang aku disini, dengan priaku yang penuh banyak kenangan, kesakitan dan tangis. Bukan dia, tapi aku setiap melihat potongan demi potongan kisahnya. Priaku, yang penuh banyak kejutan, tapi tetap saja tersentuh saat hal-hal kecil ku kirimi untuknya. 

Priaku, yang tulus, hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa ia tak sejahat tampangnya. Ia lembut, begitu lembut, sehingga akupun begitu memikirkan bagaimana cara membuatnya bahagia. Aku. Meski daftar peninggalanku begitu panjang, bisa tanyakan pada mereka bahwa aku tak pernah main-main. Aku tak memilih dalam sekejap, dan aku pernah melanggarnya lalu keburukanlah yang terjadi. Tapi percayalah, aku bersyukur atas keburukan itu, seakan menjadi alarm peringatan agar aku kembali pada langkah awalku dulu.

Sejak hari itu tak mudah membangun rasa, banyak yang datang lalu kubiarkan mereka pergi begitu saja atau aku yang meminta agar mereka pergi. Semua rasanya kosong, termasuk si Penyair. Maaf kutinggalkan kampung berpayung biru yang kau katakan akan dan telah kita bangun. Namun, tarianku menemui rumah yang nyaman tanpa paksaan dan siksa kampung dengan payung hitam itu. 

Priaku, dengan segala teka-teki waktu dari tempat kita memohon.
Kini aku "menyambung" rahasia keundahan waktu yang memisahkan kami, eh, bukan. Membiarkan kami tetap saling berdampingan dan menikmati waktu mencari-cari pada pertemuan.

Teruntuk pria menyeramkan disana :) 

Pekik Sunyi

Kata-kata itu mengalir begitu saja kukirim pada seorang pria, setelah aku membaca catatan surat cinta seorang gadis terdahulunya. Mereka teman, pacaran yang satu bilang dua bulan (katanya), yang satu bilang satu tahun lebih (ntahlah), lalu menjalin komitmen yang orang-orang kenal dengan hubungan tanpa status. Perasaanku campur aduk membacanya, aku menangis. Cemburu ku begitu besar, tapi aku merasa bodoh bukankah tiap orang punya masa lalu. Bahkan untuk urusan cinta mulai dari cinta anak-anak sudah kujamah, seharusnya dia lebih cemburu padaku. Apa karena aku wanita? Aku bingung mengapa aku menangis, aku marah pada priaku? Aku tahu di beberapa tempat dia suka berbohong, tapi,,, ah ntahlah. Beginilah jika jatuh cinta semua pasti ada “tapi” untuk membela. Aku tahu wanita apalagi penulis suka melebihkan bahasa ceritanya, termasuk aku. Aku merasakan, aku tahu, aku paham apa yang dirasa gadis itu. Rasanya aku lebih marah pada priaku karena dia sama saja seperti pria lainnya yang mencari alasan untuk menyudahi.

Tetapi semakin kubaca rasanya aku berubah kesal pada gadis itu, dia juga sama ! mencari-cari alasan agar tak dapat disalahkan. Alasannya untuk tidak menghubungi priaku dahulu, karena kesibukan karena dia berpikir priaku begitu sibuk? Itu bukan alasan untuk tak berkomunikasi ! sms sebulan sekali? Telponan sekali sebulan? Perasaan rindu (begitu gadis itu mengakuinya) macam apa itu? !!!!. aku marah pada gadis itu ketika dia mengatakan itu caranya ketika rindu sudah tak tertahan lagi? Karena dia bilang untuk mengatakan “ayuk ketemu?” terlalu menakutkan. Itu kebohongan macam apa?! Jika rindu tak akan ada gengsi yang membatasi itu jika hubungan baik tetap dilancarkan secara tak langsung komunikasi harus tetap berjalan sesering mungkin bagaimanapun keadaannya. Disaat sudah diujung begini baru gadis itu sibuk membenarkan dirinya, menyalahi priaku. Aku mengerti perasaannya sebagai wanita karena aku pernah berada di posisinya bahkan lebih parah, namun, mencari alasan dengan yang ditulisnya tadi membuat darahku yang juga wanita menggelegak. “Berjuang !” jika ada kemauan apa saja akan dilintasi dengan tetap berdoa pada yang mencipta. Maaf, aku marah padamu, Kak !

Namun perasaanku seharian itu tetap saja tak seperti biasanya. Aku memang begitu, aku emosi pada diriku sendiri yang sempat berpercik cemburu. Kata-kata gadis itu seharian ini selalu mengganggu pandangan dan pikiranku. Meski aku sudah berusaha mengabaikannya dengan menyibukan diri dalam kuliah umum mahasiswa baru. Tapi apa mau dikata, adik priaku datang dari kampung yang juga lulus untuk kuliah umum di universitasku menghubungiku, aku pun sebagai kakak juga menghubunginya. Setidaknya dia mengetahui ada orang yang dia kenal diruangan itu. sepulang dari kuliah umum ia dijemput kembali oleh priaku, setelah hampir setengah jam aku sekedar bertukar pikiran dengan adik laki-laki yang bijak itu. Ketika pria ku tiba dia tetap tersenyum seperti biasanya, lembut, hangat, tapi aku tetap saja terbayang tulisan yang aku baca semalam, sehingga pandangan benci, kesal, dan muaklah yang aku beri. Betapa berdosanya aku, aku sudah berusaha menyembunyikannya sebisa mungkin.

Aku tak memandangnya, tak ingin. Jika kupandang aku kan menangis disana. Aku tau dia memandangku dalam meski dia sedang bercakap dengan temannya disamping. Aku rindu tapi aku juga marah, mungkin bukan padanya tapi hanya saja aku tak mau dia menjadi sasaran kemarahan ku yang bodoh. Jika ku katakana apa yang terjadi dia lagi-lagi akan merasa tak berguna karena aku masih saja seperti tak yakin padanya yang telah berusaha membuktikan ucapannya, mengenalkan melalui cerita, lalu foto dan nyata, keluarganya padaku, aku pada keluarganya. Tak bisa kubayangkan pedihku ketika aku mengingat ibunya yang menitipkan priaku padaku. Aku terharu, lalu terbayang kembali tulisan gadis itu aku tersayat. Aku sendiri tak paham apa yang kurasakan aku merasa begitu jahat pada priaku karena tak mempercayai usahanya yang perlahan namun menyentuh (yah, dasar wanita ! ).

Malam ini, aku berusaha membuatnya untuk tetap tersenyum, meski dia yakin ada yang salah denganku. Priaku mengira aku sedang tak sehat, yah hatiku. Sebisaku tetap bercanda mengalihkan semua perasaan muak ku tetapi ketika salam tidur, dia tetap saja yakin aku tidak seperti biasanya. Lagi dan lagi aku merasa berdosa atas kemarahan tak jelasku. Aku menyayangi priaku, tak sanggup dapat ku teriakan hari ini. Sayang. . .

Minggu, 15 Maret 2015

Penari dan lukisan penyair (3)

Aku
Sejak matahari mulai keluar dari biliknya aku menunggu kabarnya, terakhir magrib dan kini aku menemui magrib kembali. Apa karena semangat yang kukirimi dengan tersipu semalam dia jadi begini. Mengapa rasanya ada yang kurang, berkali-kali aku melihat layar penguhubungku. Harapan semacam apa ini, mengapa rasanya kontak dengan panggilan sayang itu begitu ku nanti.
Kutulis sebait kerinduan dengan kata yang ia ajarkan, suku mereka menyebutnya dengan puisi. Aku berharap puisiku yang sebenarnya akan datang. Entah bagaimana dia menumbuhkan puisiku kembali setelah aku lupa kapan terkahir aku membuang puisi itu dalam jurang dalam. Iya, dia puisiku itu yang aku katakan sebelum memberinya semangat tadi malam. Entah sudah berapa lembar puisi yang aku tulis pada buku biru langit baru itu.
Dan dia… hadir ! aku tak bisa menyembunyikan gembira ku, ku lontarkan ekspresiku meski aku tau dia akan membalasnya dengan letih karena ATP nya akhir-akhir ini terkuras. Satu pertanyaan yang membuat senangku menggulung tebal, pertanyaan atas penyataan bahagiaku. Aku kehilangan dia seharian, dan dia mengadukan letihnya padaku. Betapa aku suka dia begini, dan aku dengan suka seperti membiarkannya meletakan kepalanya di pangkuanku, dengan membiarkannya bercerita selama aku mengelus lembut rambutnya. Aku mengabaikan rasa kesalku atas penantian seharian lagi !, dan tiap hari aku ingin mendengar kisahnya, aku ingin !
1115
Lelaki itu berjalan gontai menuju kos sepulang dari latihannya. Dendangan ibunya yang diperlukannya sekarang, ya hanya itu. saat dimana badan ingin ia bagi tiga, saat dimana ia perlu waktu menjadi 30 jam, tapi ini sudah terlarut malam ibu pasti sudah terlelap pikir lelaki itu. Saat berbaring sejenak di kasur, laporan-laporannya memandanginya dengan intim. Dia masih begitu lelah, siapakah yang akan mengingatkannya bahwa ia perlu nasi. Yah, nasi tak perlu disuap hidangkan saja sudah cukup bagi lelaki itu.
Layar penghubung menggodanya dengan bergetar, ada yang ditanyakan sahabat perempuannya. Lelaki itu mengerutkan kening, pertanda betapa malasnya ia membahas persoalan itu sekarang. Oh tidak, ia bukan tipe pengabai ! dibalasnya juga pesan tadi dengan ringkas, lalu menuju halaman berita dimana ada dua yang dicari kabarnya, oh, mungkin cuma satu. Ada satu syair kerinduan dengan tanda tanya disana, mengapa syair itu menyihir letihnya. Si pemilik syair tadi, seperti kehilangannya seharian ini, iyakah? Aku benci tanda tanya !
Sosok di dunia sebelah melunturkan letihnya, serasa ada yang membiarkan lelaki itu melepas kadunya dengan manja. Lelaki itu sudah lupa pada siapa ia bercerita hanya saja jika letihnya dapat ditelan disana mengapa ia tak coba mengurai. Keletihan ini sudah dipucuk, semangat dari dunia sebelah terus saja membawa bunga warna-warni dalam sungai hitam letihnya. Aku sedang berbaring pada hati yang mengelusku dengan damai hingga aku terlelap dalam ketenangan dan tersenyum. Lelaki itu mencium wangi manis dari dalam percakpan yang disajikan oleh layar penghubungnya. Baiklah laporan aku datang !
1115
“jika sepi adalah kunang-kunang,
Ia akan pergi ketika bulan naik,
Lalu pulang bila langit telah pekat, untukmu yang kukirimi puisi
Bunuhlah kunang-kunang itu untukku !”
Hari ini aku menghadiri rapat yang dimana aku menjadi salah satu penanggung jawab dalam acaranya. Kebiasaan negara ini selalu begini, tetapkanlah waktu sebelum waktu H. Badan terkatung-katung menanggung seminggu hujan pulang dengan 24 kilometernya. Aku sedang tidak dalam mood untuk berdebat, cukup kiranya aku menanggung debat dalam kepalaku, pusing ! dan menunggu rapat ini akan dimulai adalah begitu memuakan. Aku mencari layar penghubungku, mencari-cari berita yang mungkin dengannya aku bisa membunuh bosanku.
Sosok dari dunia sebelah, menulis sebait panjang puisi aku mencoba mengartikannya. Aku tersenyum tergelitik ingin tahu apa yang membuatnya begitu suntuk. Baru saja aku ingin menyentuhnya, berita tadi masuk dalam dinding percakapan ku. Persis sama ! hanya saja “untukmu yang menari di pinggir malam, aku kirimi puisi”. Aku… tertegun jarijariku membeku, lupa huruf apa yang tadinya ingin ku susun. Jadi, yang diberitakannya aku? Perlu beberapa detik hampir menjadi menit untuk ku terdiam seperti kehilangan oksigen. Aku terdiam, di antara puluhan jiwa yang sibuk dengan suaranya sendiri dengan berharap tak ada yang melihat ekpresi bodohku. Baiklah, setelah kembali pada nafasku aku tersenyum ingin menangis rasanya ku hampiri dua malaikat kembarku, dan aku sudah menduga apa yang akan mereka jawab “kan benaaaaaar selama ini itu berita-berita dia untuk engkau cik !!!” kami pun tertawa puas, meskipun aku masih mendingin. Aku tersenyum ! yah senyum. Dia membalas kesukaanku, aku suka melihat sosok kerasnya bermanja padaku. Aku suka !
1115
Lelaki itu seharusnya duduk di kursi goyang dengan ekspresi tenang, menunggu giliran dialognya muncul. Tetapi tidak, yang dia lakukan menemui kasurnya dan berwisata ke alam mimpi demi badan yang remuk. Iya, tadi malam ia begitu letih hingga tak sempat memberi kabar pada sosok di dunia sebelah.
Gadis itu berada di ambang pintu, menyambutnya dengan senyum dan tangan siap memeluk pria malang yang letih ini. Mereka lalu berpelukan, si pria mencium kening gadis itu dan seketika letihnya hilang. Berada dalam pelukan gadis itu adalah obat tersendiri saat ia pulang menghadapi ribetnya dunia.
Lelaki itu tersenyum dalam tidurnya, raut wajahnya senyaman ia tidur dalam tumpukan kapas ringan yang diayun tanpa beban.
Lalu si pria tersandung sepatunya sendiri, malangnya si gadis tak terlalu kuat menahannya. Mereka berdua terjatuh bersama, dan tertawa.
Lelaki itu pun membuka matanya dan tersenyum, betapa adegan yang diperaninya tadi begitu lucu. Lelaki itu tampak tersipu, sampai ia menatap jam dinding biru di dinding kosnya mengumumkan jam 3 dini hari. Latihan sudah berlalu delapan jam yang lalu, ia melihat takut pada layar penghubungnya.
1115
Pagi ini, aku begitu dekat dengan ruangan kesenangan kami. Adindaku mengikuti perlombaan yang mereka adakan. Eh iya sepertinya begitu. Memandang pintunya saja sudah membuatku rindu, seharian sejak sosok di dunia sebelah itu mengadukan keletihannya dengan manja. Haaah… aku coba membuang nafas, berharap ini akan baik-baik saja. Aku teringat pertemuan sebelumnya itu kedua kalinya aku dapat memandangnya.
Hari itu ruangan dipenuhi dengan ramai anak-anak berseragam. Tak sedikitpun terlintas untuk menghubunginya, hanya saja deg-degan memandang ruangan inti kesenangan itu ada. Saat aku akan beranjak pergi, aku menemukan sosok itu dia begitu bosan sehingga melepaskan matanya dari latar panggung dan pindah pada kursi belakangnya. Detik tak membiarkanku beranjak, aku dengan ekor mataku yang bodoh masih saja memandangnya, urat-urat syarafku membisikan ia akan melihatmu percayalah. Semakin ku pandang semakin tak ku hiraukan panggilan adindaku yang merengek untuk kembali. Masih bersama detik aku bermain, ia menggerakan kepalanya dan. Melakukan apa yang kulakukan, oh betapa aku mencintai detik. Kami tertegun didalamnya, hingga jantungku benar-benar menendangku untuk tersenyum meski tampak bodoh sebab yang di hadiahi senyum tetap tertegun dengan polosnya.
Semuanya terasa otomatis, tanganku tak ingin ketinggalan mengambil alih hiruk pikuk disana. Ia melambai dengan seenaknya, dan bibir yang tadi tersenyum kikuk makin melebar dan rileks lebih lagi dia mengucapkan dengan tak bersuara “Hai, mas !” seperti anak kecil yang menemukan bonekanya, tersenyum riang itu ekspresi bodoh yang kusajikan. Baru lah yang disana ditampar detik untuk membalasnya, aku rasa itu pertama kalinya aku ditarik senyuman itu pada detakan yang makin kencang. Berkali-kali aku melihatnya kebelakang, dan ia masih saja menatapku. Lucu !
Baiklah, episode kali ini aku akan banyak berceloteh tentang sosok di dunia sebelah itu. Rindu menerpaku tajam, hingga “PING!” hey, ini masih jam tujuh pagi apakah dia lupa pekatnya? Ah, sudahlah yang penting rinduku datang ! Dia menceritakan keabsenannya tadi malam, ternyata tak hanya padaku tetapi juga pada ruangan kesenangan itu. Dia ingin berbagi ketidaktenangannya karena teman-teman lainnya tertelan mimpinya tadi malam. Lalu, ini tawa pagi kami untuk pertama kalinya. Dia berhasil membunuh kesalnya pada waktu yang membuat juri tak kunjung datang, aku tertawa ! iya ! seperti sebelumnya, mengabaikan mata mata lain di sekitarku. Hingga dinda menepukku, aku disiram ekspresi datar “ngapa kau kak?” dia tertawa ! lagi aku suka, aku suka aku membuatnya tertawa, dan ia larut dalam tawaku. Matahari terasa lebih cerah dan sejuk.
1115

Lelaki itu menuju pulau jawa hari ini, namun lagi lagi jaringan sedang cemburu pada layar penghubung yang begitu sibuk. Lelaki itu menitipkan salam keberangkatan pada sosok terang di dunia sebelah. Ntah mengapa rasanya begitu penting untuk “pamit”. Namun dua jam perjalanan tak jua kunjung ada balasan dari seberang hatinya lusuh saat berganti berita tibanya. Ia akan disini beberapa hari. Lelaki itu merasa akan ada hal buruk yang dinikmati layar penghubungnya. Aaah… rindu, iyakah engkau akan menyapa lelaki gontai itu. Begitu tidak adil rasanya lelaki ini hanya memberi satu paragraph. Tapi memang itulah yang ada ia hanya mengahdiahi sebait paragraph kali ini. (bersambung)

Senin, 26 Januari 2015

Aku BENCI kau dang !

Aku BENCI kau dang !

Itu yang tak dapat ku katakan, padamu dang*. Tak kusembunyikan sakitku, tapi kutumpuk semuanya di sini. Di sepotong tubuh dengan tulang-tulang yang memiliki daging makin lama makin sedikit. Otak ku mengatakan tidak, tetapi hati tetap mengajukan "ya". Mengapa kita berbalik, engkau mengatakan otak lebih cepat bekerja daripada "hati". Setelah ku sadari itulah kita, lelaki dan perempuan, Tapi adakah kau sadari, dang?

Aku benci kau dang !

Sudah berapa lama perjalananmu bersama mereka, tidakah kau juga paham apa yang kau tinggalkan disepotong tubuh ini? Mengapa aku begitu paham lukamu dalam ihwal singkat, tapi tidak untuk kau !
sebegini parahkah mereka membawamu untuk menggilasku?
tidak ! seorang malaikat kampusku mengatakan, ini akan berakhir indah, engkau akan bertemu cik.

Iya. kataku di dalam hati.
Tapi aku mengenal kau dang ! kau begitu brengsek !
ah, aku suka aku bisa meneriakannya
di depan anak-anak rahim puisimu.

Aku benci kau dang !
Aku BENCI KAU !