Aku
Sejak
matahari mulai keluar dari biliknya aku menunggu kabarnya, terakhir magrib dan
kini aku menemui magrib kembali. Apa karena semangat yang kukirimi dengan
tersipu semalam dia jadi begini. Mengapa rasanya ada yang kurang, berkali-kali
aku melihat layar penguhubungku. Harapan semacam apa ini, mengapa rasanya
kontak dengan panggilan sayang itu begitu ku nanti.
Kutulis
sebait kerinduan dengan kata yang ia ajarkan, suku mereka menyebutnya dengan puisi.
Aku berharap puisiku yang sebenarnya akan datang. Entah bagaimana dia
menumbuhkan puisiku kembali setelah aku lupa kapan terkahir aku membuang puisi
itu dalam jurang dalam. Iya, dia puisiku itu yang aku katakan sebelum
memberinya semangat tadi malam. Entah sudah berapa lembar puisi yang aku tulis
pada buku biru langit baru itu.
Dan dia…
hadir ! aku tak bisa menyembunyikan gembira ku, ku lontarkan ekspresiku meski
aku tau dia akan membalasnya dengan letih karena ATP nya akhir-akhir ini terkuras.
Satu pertanyaan yang membuat senangku menggulung tebal, pertanyaan atas
penyataan bahagiaku. Aku kehilangan dia seharian, dan dia mengadukan letihnya
padaku. Betapa aku suka dia begini, dan aku dengan suka seperti membiarkannya
meletakan kepalanya di pangkuanku, dengan membiarkannya bercerita selama aku
mengelus lembut rambutnya. Aku mengabaikan rasa kesalku atas penantian seharian
lagi !, dan tiap hari aku ingin mendengar kisahnya, aku ingin !
1115
Lelaki
itu berjalan gontai menuju kos sepulang dari latihannya. Dendangan ibunya yang
diperlukannya sekarang, ya hanya itu. saat dimana badan ingin ia bagi tiga,
saat dimana ia perlu waktu menjadi 30 jam, tapi ini sudah terlarut malam ibu
pasti sudah terlelap pikir lelaki itu. Saat berbaring sejenak di kasur,
laporan-laporannya memandanginya dengan intim. Dia masih begitu lelah, siapakah
yang akan mengingatkannya bahwa ia perlu nasi. Yah, nasi tak perlu disuap hidangkan
saja sudah cukup bagi lelaki itu.
Layar
penghubung menggodanya dengan bergetar, ada yang ditanyakan sahabat
perempuannya. Lelaki itu mengerutkan kening, pertanda betapa malasnya ia
membahas persoalan itu sekarang. Oh tidak, ia bukan tipe pengabai ! dibalasnya
juga pesan tadi dengan ringkas, lalu menuju halaman berita dimana ada dua yang
dicari kabarnya, oh, mungkin cuma satu. Ada satu syair kerinduan dengan tanda
tanya disana, mengapa syair itu menyihir letihnya. Si pemilik syair tadi,
seperti kehilangannya seharian ini, iyakah? Aku benci tanda tanya !
Sosok di
dunia sebelah melunturkan letihnya, serasa ada yang membiarkan lelaki itu
melepas kadunya dengan manja. Lelaki itu sudah lupa pada siapa ia bercerita
hanya saja jika letihnya dapat ditelan disana mengapa ia tak coba mengurai.
Keletihan ini sudah dipucuk, semangat dari dunia sebelah terus saja membawa
bunga warna-warni dalam sungai hitam letihnya. Aku sedang berbaring pada hati
yang mengelusku dengan damai hingga aku terlelap dalam ketenangan dan
tersenyum. Lelaki itu mencium wangi manis dari dalam percakpan yang disajikan
oleh layar penghubungnya. Baiklah laporan aku datang !
1115
“jika sepi adalah kunang-kunang,
Ia akan pergi ketika bulan naik,
Lalu pulang bila langit telah pekat, untukmu
yang kukirimi puisi
Bunuhlah kunang-kunang itu untukku !”
Hari ini
aku menghadiri rapat yang dimana aku menjadi salah satu penanggung jawab dalam
acaranya. Kebiasaan negara ini selalu begini, tetapkanlah waktu sebelum waktu
H. Badan terkatung-katung menanggung seminggu hujan pulang dengan 24
kilometernya. Aku sedang tidak dalam mood untuk berdebat, cukup kiranya aku
menanggung debat dalam kepalaku, pusing ! dan menunggu rapat ini akan dimulai
adalah begitu memuakan. Aku mencari layar penghubungku, mencari-cari berita
yang mungkin dengannya aku bisa membunuh bosanku.
Sosok
dari dunia sebelah, menulis sebait panjang puisi aku mencoba mengartikannya.
Aku tersenyum tergelitik ingin tahu apa yang membuatnya begitu suntuk. Baru
saja aku ingin menyentuhnya, berita tadi masuk dalam dinding percakapan ku.
Persis sama ! hanya saja “untukmu yang menari di pinggir malam, aku kirimi
puisi”. Aku… tertegun jarijariku membeku, lupa huruf apa yang tadinya ingin ku
susun. Jadi, yang diberitakannya aku? Perlu beberapa detik hampir menjadi menit
untuk ku terdiam seperti kehilangan oksigen. Aku terdiam, di antara puluhan
jiwa yang sibuk dengan suaranya sendiri dengan berharap tak ada yang melihat
ekpresi bodohku. Baiklah, setelah kembali pada nafasku aku tersenyum ingin
menangis rasanya ku hampiri dua malaikat kembarku, dan aku sudah menduga apa
yang akan mereka jawab “kan benaaaaaar selama ini itu berita-berita dia untuk
engkau cik !!!” kami pun tertawa puas, meskipun aku masih mendingin. Aku
tersenyum ! yah senyum. Dia membalas kesukaanku, aku suka melihat sosok
kerasnya bermanja padaku. Aku suka !
1115
Lelaki
itu seharusnya duduk di kursi goyang dengan ekspresi tenang, menunggu giliran
dialognya muncul. Tetapi tidak, yang dia lakukan menemui kasurnya dan berwisata
ke alam mimpi demi badan yang remuk. Iya, tadi malam ia begitu letih hingga tak
sempat memberi kabar pada sosok di dunia sebelah.
Gadis itu
berada di ambang pintu, menyambutnya dengan senyum dan tangan siap memeluk pria
malang yang letih ini. Mereka lalu berpelukan, si pria mencium kening gadis itu
dan seketika letihnya hilang. Berada dalam pelukan gadis itu adalah obat
tersendiri saat ia pulang menghadapi ribetnya dunia.
Lelaki
itu tersenyum dalam tidurnya, raut wajahnya senyaman ia tidur dalam tumpukan
kapas ringan yang diayun tanpa beban.
Lalu si
pria tersandung sepatunya sendiri, malangnya si gadis tak terlalu kuat
menahannya. Mereka berdua terjatuh bersama, dan tertawa.
Lelaki
itu pun membuka matanya dan tersenyum, betapa adegan yang diperaninya tadi
begitu lucu. Lelaki itu tampak tersipu, sampai ia menatap jam dinding biru di
dinding kosnya mengumumkan jam 3 dini hari. Latihan sudah berlalu delapan jam
yang lalu, ia melihat takut pada layar penghubungnya.
1115
Pagi ini,
aku begitu dekat dengan ruangan kesenangan kami. Adindaku mengikuti perlombaan
yang mereka adakan. Eh iya sepertinya begitu. Memandang pintunya saja sudah
membuatku rindu, seharian sejak sosok di dunia sebelah itu mengadukan keletihannya
dengan manja. Haaah… aku coba membuang nafas, berharap ini akan baik-baik saja.
Aku teringat pertemuan sebelumnya itu kedua kalinya aku dapat memandangnya.
Hari itu
ruangan dipenuhi dengan ramai anak-anak berseragam. Tak sedikitpun terlintas untuk
menghubunginya, hanya saja deg-degan memandang ruangan inti kesenangan itu ada.
Saat aku akan beranjak pergi, aku menemukan sosok itu dia begitu bosan sehingga
melepaskan matanya dari latar panggung dan pindah pada kursi belakangnya. Detik
tak membiarkanku beranjak, aku dengan ekor mataku yang bodoh masih saja
memandangnya, urat-urat syarafku membisikan ia akan melihatmu percayalah.
Semakin ku pandang semakin tak ku hiraukan panggilan adindaku yang merengek
untuk kembali. Masih bersama detik aku bermain, ia menggerakan kepalanya dan.
Melakukan apa yang kulakukan, oh betapa aku mencintai detik. Kami tertegun
didalamnya, hingga jantungku benar-benar menendangku untuk tersenyum meski
tampak bodoh sebab yang di hadiahi senyum tetap tertegun dengan polosnya.
Semuanya
terasa otomatis, tanganku tak ingin ketinggalan mengambil alih hiruk pikuk
disana. Ia melambai dengan seenaknya, dan bibir yang tadi tersenyum kikuk makin
melebar dan rileks lebih lagi dia mengucapkan dengan tak bersuara “Hai, mas !”
seperti anak kecil yang menemukan bonekanya, tersenyum riang itu ekspresi bodoh
yang kusajikan. Baru lah yang disana ditampar detik untuk membalasnya, aku rasa
itu pertama kalinya aku ditarik senyuman itu pada detakan yang makin kencang.
Berkali-kali aku melihatnya kebelakang, dan ia masih saja menatapku. Lucu !
Baiklah,
episode kali ini aku akan banyak berceloteh tentang sosok di dunia sebelah itu.
Rindu menerpaku tajam, hingga “PING!” hey, ini masih jam tujuh pagi apakah dia
lupa pekatnya? Ah, sudahlah yang penting rinduku datang ! Dia menceritakan
keabsenannya tadi malam, ternyata tak hanya padaku tetapi juga pada ruangan
kesenangan itu. Dia ingin berbagi ketidaktenangannya karena teman-teman lainnya
tertelan mimpinya tadi malam. Lalu, ini tawa pagi kami untuk pertama kalinya.
Dia berhasil membunuh kesalnya pada waktu yang membuat juri tak kunjung datang,
aku tertawa ! iya ! seperti sebelumnya, mengabaikan mata mata lain di
sekitarku. Hingga dinda menepukku, aku disiram ekspresi datar “ngapa kau kak?”
dia tertawa ! lagi aku suka, aku suka aku membuatnya tertawa, dan ia larut
dalam tawaku. Matahari terasa lebih cerah dan sejuk.
1115
Lelaki
itu menuju pulau jawa hari ini, namun lagi lagi jaringan sedang cemburu pada
layar penghubung yang begitu sibuk. Lelaki itu menitipkan salam keberangkatan
pada sosok terang di dunia sebelah. Ntah mengapa rasanya begitu penting untuk
“pamit”. Namun dua jam perjalanan tak jua kunjung ada balasan dari seberang
hatinya lusuh saat berganti berita tibanya. Ia akan disini beberapa hari. Lelaki
itu merasa akan ada hal buruk yang dinikmati layar penghubungnya. Aaah… rindu,
iyakah engkau akan menyapa lelaki gontai itu. Begitu tidak adil rasanya lelaki
ini hanya memberi satu paragraph. Tapi memang itulah yang ada ia hanya
mengahdiahi sebait paragraph kali ini. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar