Minggu, 15 Maret 2015

Penari dan lukisan penyair (3)

Aku
Sejak matahari mulai keluar dari biliknya aku menunggu kabarnya, terakhir magrib dan kini aku menemui magrib kembali. Apa karena semangat yang kukirimi dengan tersipu semalam dia jadi begini. Mengapa rasanya ada yang kurang, berkali-kali aku melihat layar penguhubungku. Harapan semacam apa ini, mengapa rasanya kontak dengan panggilan sayang itu begitu ku nanti.
Kutulis sebait kerinduan dengan kata yang ia ajarkan, suku mereka menyebutnya dengan puisi. Aku berharap puisiku yang sebenarnya akan datang. Entah bagaimana dia menumbuhkan puisiku kembali setelah aku lupa kapan terkahir aku membuang puisi itu dalam jurang dalam. Iya, dia puisiku itu yang aku katakan sebelum memberinya semangat tadi malam. Entah sudah berapa lembar puisi yang aku tulis pada buku biru langit baru itu.
Dan dia… hadir ! aku tak bisa menyembunyikan gembira ku, ku lontarkan ekspresiku meski aku tau dia akan membalasnya dengan letih karena ATP nya akhir-akhir ini terkuras. Satu pertanyaan yang membuat senangku menggulung tebal, pertanyaan atas penyataan bahagiaku. Aku kehilangan dia seharian, dan dia mengadukan letihnya padaku. Betapa aku suka dia begini, dan aku dengan suka seperti membiarkannya meletakan kepalanya di pangkuanku, dengan membiarkannya bercerita selama aku mengelus lembut rambutnya. Aku mengabaikan rasa kesalku atas penantian seharian lagi !, dan tiap hari aku ingin mendengar kisahnya, aku ingin !
1115
Lelaki itu berjalan gontai menuju kos sepulang dari latihannya. Dendangan ibunya yang diperlukannya sekarang, ya hanya itu. saat dimana badan ingin ia bagi tiga, saat dimana ia perlu waktu menjadi 30 jam, tapi ini sudah terlarut malam ibu pasti sudah terlelap pikir lelaki itu. Saat berbaring sejenak di kasur, laporan-laporannya memandanginya dengan intim. Dia masih begitu lelah, siapakah yang akan mengingatkannya bahwa ia perlu nasi. Yah, nasi tak perlu disuap hidangkan saja sudah cukup bagi lelaki itu.
Layar penghubung menggodanya dengan bergetar, ada yang ditanyakan sahabat perempuannya. Lelaki itu mengerutkan kening, pertanda betapa malasnya ia membahas persoalan itu sekarang. Oh tidak, ia bukan tipe pengabai ! dibalasnya juga pesan tadi dengan ringkas, lalu menuju halaman berita dimana ada dua yang dicari kabarnya, oh, mungkin cuma satu. Ada satu syair kerinduan dengan tanda tanya disana, mengapa syair itu menyihir letihnya. Si pemilik syair tadi, seperti kehilangannya seharian ini, iyakah? Aku benci tanda tanya !
Sosok di dunia sebelah melunturkan letihnya, serasa ada yang membiarkan lelaki itu melepas kadunya dengan manja. Lelaki itu sudah lupa pada siapa ia bercerita hanya saja jika letihnya dapat ditelan disana mengapa ia tak coba mengurai. Keletihan ini sudah dipucuk, semangat dari dunia sebelah terus saja membawa bunga warna-warni dalam sungai hitam letihnya. Aku sedang berbaring pada hati yang mengelusku dengan damai hingga aku terlelap dalam ketenangan dan tersenyum. Lelaki itu mencium wangi manis dari dalam percakpan yang disajikan oleh layar penghubungnya. Baiklah laporan aku datang !
1115
“jika sepi adalah kunang-kunang,
Ia akan pergi ketika bulan naik,
Lalu pulang bila langit telah pekat, untukmu yang kukirimi puisi
Bunuhlah kunang-kunang itu untukku !”
Hari ini aku menghadiri rapat yang dimana aku menjadi salah satu penanggung jawab dalam acaranya. Kebiasaan negara ini selalu begini, tetapkanlah waktu sebelum waktu H. Badan terkatung-katung menanggung seminggu hujan pulang dengan 24 kilometernya. Aku sedang tidak dalam mood untuk berdebat, cukup kiranya aku menanggung debat dalam kepalaku, pusing ! dan menunggu rapat ini akan dimulai adalah begitu memuakan. Aku mencari layar penghubungku, mencari-cari berita yang mungkin dengannya aku bisa membunuh bosanku.
Sosok dari dunia sebelah, menulis sebait panjang puisi aku mencoba mengartikannya. Aku tersenyum tergelitik ingin tahu apa yang membuatnya begitu suntuk. Baru saja aku ingin menyentuhnya, berita tadi masuk dalam dinding percakapan ku. Persis sama ! hanya saja “untukmu yang menari di pinggir malam, aku kirimi puisi”. Aku… tertegun jarijariku membeku, lupa huruf apa yang tadinya ingin ku susun. Jadi, yang diberitakannya aku? Perlu beberapa detik hampir menjadi menit untuk ku terdiam seperti kehilangan oksigen. Aku terdiam, di antara puluhan jiwa yang sibuk dengan suaranya sendiri dengan berharap tak ada yang melihat ekpresi bodohku. Baiklah, setelah kembali pada nafasku aku tersenyum ingin menangis rasanya ku hampiri dua malaikat kembarku, dan aku sudah menduga apa yang akan mereka jawab “kan benaaaaaar selama ini itu berita-berita dia untuk engkau cik !!!” kami pun tertawa puas, meskipun aku masih mendingin. Aku tersenyum ! yah senyum. Dia membalas kesukaanku, aku suka melihat sosok kerasnya bermanja padaku. Aku suka !
1115
Lelaki itu seharusnya duduk di kursi goyang dengan ekspresi tenang, menunggu giliran dialognya muncul. Tetapi tidak, yang dia lakukan menemui kasurnya dan berwisata ke alam mimpi demi badan yang remuk. Iya, tadi malam ia begitu letih hingga tak sempat memberi kabar pada sosok di dunia sebelah.
Gadis itu berada di ambang pintu, menyambutnya dengan senyum dan tangan siap memeluk pria malang yang letih ini. Mereka lalu berpelukan, si pria mencium kening gadis itu dan seketika letihnya hilang. Berada dalam pelukan gadis itu adalah obat tersendiri saat ia pulang menghadapi ribetnya dunia.
Lelaki itu tersenyum dalam tidurnya, raut wajahnya senyaman ia tidur dalam tumpukan kapas ringan yang diayun tanpa beban.
Lalu si pria tersandung sepatunya sendiri, malangnya si gadis tak terlalu kuat menahannya. Mereka berdua terjatuh bersama, dan tertawa.
Lelaki itu pun membuka matanya dan tersenyum, betapa adegan yang diperaninya tadi begitu lucu. Lelaki itu tampak tersipu, sampai ia menatap jam dinding biru di dinding kosnya mengumumkan jam 3 dini hari. Latihan sudah berlalu delapan jam yang lalu, ia melihat takut pada layar penghubungnya.
1115
Pagi ini, aku begitu dekat dengan ruangan kesenangan kami. Adindaku mengikuti perlombaan yang mereka adakan. Eh iya sepertinya begitu. Memandang pintunya saja sudah membuatku rindu, seharian sejak sosok di dunia sebelah itu mengadukan keletihannya dengan manja. Haaah… aku coba membuang nafas, berharap ini akan baik-baik saja. Aku teringat pertemuan sebelumnya itu kedua kalinya aku dapat memandangnya.
Hari itu ruangan dipenuhi dengan ramai anak-anak berseragam. Tak sedikitpun terlintas untuk menghubunginya, hanya saja deg-degan memandang ruangan inti kesenangan itu ada. Saat aku akan beranjak pergi, aku menemukan sosok itu dia begitu bosan sehingga melepaskan matanya dari latar panggung dan pindah pada kursi belakangnya. Detik tak membiarkanku beranjak, aku dengan ekor mataku yang bodoh masih saja memandangnya, urat-urat syarafku membisikan ia akan melihatmu percayalah. Semakin ku pandang semakin tak ku hiraukan panggilan adindaku yang merengek untuk kembali. Masih bersama detik aku bermain, ia menggerakan kepalanya dan. Melakukan apa yang kulakukan, oh betapa aku mencintai detik. Kami tertegun didalamnya, hingga jantungku benar-benar menendangku untuk tersenyum meski tampak bodoh sebab yang di hadiahi senyum tetap tertegun dengan polosnya.
Semuanya terasa otomatis, tanganku tak ingin ketinggalan mengambil alih hiruk pikuk disana. Ia melambai dengan seenaknya, dan bibir yang tadi tersenyum kikuk makin melebar dan rileks lebih lagi dia mengucapkan dengan tak bersuara “Hai, mas !” seperti anak kecil yang menemukan bonekanya, tersenyum riang itu ekspresi bodoh yang kusajikan. Baru lah yang disana ditampar detik untuk membalasnya, aku rasa itu pertama kalinya aku ditarik senyuman itu pada detakan yang makin kencang. Berkali-kali aku melihatnya kebelakang, dan ia masih saja menatapku. Lucu !
Baiklah, episode kali ini aku akan banyak berceloteh tentang sosok di dunia sebelah itu. Rindu menerpaku tajam, hingga “PING!” hey, ini masih jam tujuh pagi apakah dia lupa pekatnya? Ah, sudahlah yang penting rinduku datang ! Dia menceritakan keabsenannya tadi malam, ternyata tak hanya padaku tetapi juga pada ruangan kesenangan itu. Dia ingin berbagi ketidaktenangannya karena teman-teman lainnya tertelan mimpinya tadi malam. Lalu, ini tawa pagi kami untuk pertama kalinya. Dia berhasil membunuh kesalnya pada waktu yang membuat juri tak kunjung datang, aku tertawa ! iya ! seperti sebelumnya, mengabaikan mata mata lain di sekitarku. Hingga dinda menepukku, aku disiram ekspresi datar “ngapa kau kak?” dia tertawa ! lagi aku suka, aku suka aku membuatnya tertawa, dan ia larut dalam tawaku. Matahari terasa lebih cerah dan sejuk.
1115

Lelaki itu menuju pulau jawa hari ini, namun lagi lagi jaringan sedang cemburu pada layar penghubung yang begitu sibuk. Lelaki itu menitipkan salam keberangkatan pada sosok terang di dunia sebelah. Ntah mengapa rasanya begitu penting untuk “pamit”. Namun dua jam perjalanan tak jua kunjung ada balasan dari seberang hatinya lusuh saat berganti berita tibanya. Ia akan disini beberapa hari. Lelaki itu merasa akan ada hal buruk yang dinikmati layar penghubungnya. Aaah… rindu, iyakah engkau akan menyapa lelaki gontai itu. Begitu tidak adil rasanya lelaki ini hanya memberi satu paragraph. Tapi memang itulah yang ada ia hanya mengahdiahi sebait paragraph kali ini. (bersambung)

Tidak ada komentar: