Kata-kata itu
mengalir begitu saja kukirim pada seorang pria, setelah aku membaca catatan
surat cinta seorang gadis terdahulunya. Mereka teman, pacaran yang satu bilang dua bulan (katanya), yang satu bilang satu tahun lebih (ntahlah), lalu
menjalin komitmen yang orang-orang kenal dengan hubungan tanpa status.
Perasaanku campur aduk membacanya, aku menangis. Cemburu ku begitu besar, tapi
aku merasa bodoh bukankah tiap orang punya masa lalu. Bahkan untuk urusan cinta
mulai dari cinta anak-anak sudah kujamah, seharusnya dia lebih cemburu padaku.
Apa karena aku wanita? Aku bingung mengapa aku menangis, aku marah pada priaku?
Aku tahu di beberapa tempat dia suka berbohong, tapi,,, ah ntahlah. Beginilah
jika jatuh cinta semua pasti ada “tapi” untuk membela. Aku tahu wanita apalagi
penulis suka melebihkan bahasa ceritanya, termasuk aku. Aku merasakan, aku
tahu, aku paham apa yang dirasa gadis itu. Rasanya aku lebih marah pada priaku
karena dia sama saja seperti pria lainnya yang mencari alasan untuk menyudahi.
Tetapi semakin kubaca rasanya aku berubah kesal pada gadis itu, dia juga sama ! mencari-cari alasan agar tak dapat disalahkan. Alasannya untuk tidak menghubungi priaku dahulu, karena kesibukan karena dia berpikir priaku begitu sibuk? Itu bukan alasan untuk tak berkomunikasi ! sms sebulan sekali? Telponan sekali sebulan? Perasaan rindu (begitu gadis itu mengakuinya) macam apa itu? !!!!. aku marah pada gadis itu ketika dia mengatakan itu caranya ketika rindu sudah tak tertahan lagi? Karena dia bilang untuk mengatakan “ayuk ketemu?” terlalu menakutkan. Itu kebohongan macam apa?! Jika rindu tak akan ada gengsi yang membatasi itu jika hubungan baik tetap dilancarkan secara tak langsung komunikasi harus tetap berjalan sesering mungkin bagaimanapun keadaannya. Disaat sudah diujung begini baru gadis itu sibuk membenarkan dirinya, menyalahi priaku. Aku mengerti perasaannya sebagai wanita karena aku pernah berada di posisinya bahkan lebih parah, namun, mencari alasan dengan yang ditulisnya tadi membuat darahku yang juga wanita menggelegak. “Berjuang !” jika ada kemauan apa saja akan dilintasi dengan tetap berdoa pada yang mencipta. Maaf, aku marah padamu, Kak !
Namun perasaanku seharian itu tetap saja tak seperti biasanya. Aku memang begitu, aku emosi pada diriku sendiri yang sempat berpercik cemburu. Kata-kata gadis itu seharian ini selalu mengganggu pandangan dan pikiranku. Meski aku sudah berusaha mengabaikannya dengan menyibukan diri dalam kuliah umum mahasiswa baru. Tapi apa mau dikata, adik priaku datang dari kampung yang juga lulus untuk kuliah umum di universitasku menghubungiku, aku pun sebagai kakak juga menghubunginya. Setidaknya dia mengetahui ada orang yang dia kenal diruangan itu. sepulang dari kuliah umum ia dijemput kembali oleh priaku, setelah hampir setengah jam aku sekedar bertukar pikiran dengan adik laki-laki yang bijak itu. Ketika pria ku tiba dia tetap tersenyum seperti biasanya, lembut, hangat, tapi aku tetap saja terbayang tulisan yang aku baca semalam, sehingga pandangan benci, kesal, dan muaklah yang aku beri. Betapa berdosanya aku, aku sudah berusaha menyembunyikannya sebisa mungkin.
Aku tak memandangnya, tak ingin. Jika kupandang aku kan menangis disana. Aku tau dia memandangku dalam meski dia sedang bercakap dengan temannya disamping. Aku rindu tapi aku juga marah, mungkin bukan padanya tapi hanya saja aku tak mau dia menjadi sasaran kemarahan ku yang bodoh. Jika ku katakana apa yang terjadi dia lagi-lagi akan merasa tak berguna karena aku masih saja seperti tak yakin padanya yang telah berusaha membuktikan ucapannya, mengenalkan melalui cerita, lalu foto dan nyata, keluarganya padaku, aku pada keluarganya. Tak bisa kubayangkan pedihku ketika aku mengingat ibunya yang menitipkan priaku padaku. Aku terharu, lalu terbayang kembali tulisan gadis itu aku tersayat. Aku sendiri tak paham apa yang kurasakan aku merasa begitu jahat pada priaku karena tak mempercayai usahanya yang perlahan namun menyentuh (yah, dasar wanita ! ).
Malam ini, aku berusaha membuatnya untuk tetap tersenyum, meski dia yakin ada yang salah denganku. Priaku mengira aku sedang tak sehat, yah hatiku. Sebisaku tetap bercanda mengalihkan semua perasaan muak ku tetapi ketika salam tidur, dia tetap saja yakin aku tidak seperti biasanya. Lagi dan lagi aku merasa berdosa atas kemarahan tak jelasku. Aku menyayangi priaku, tak sanggup dapat ku teriakan hari ini. Sayang. . .
Tetapi semakin kubaca rasanya aku berubah kesal pada gadis itu, dia juga sama ! mencari-cari alasan agar tak dapat disalahkan. Alasannya untuk tidak menghubungi priaku dahulu, karena kesibukan karena dia berpikir priaku begitu sibuk? Itu bukan alasan untuk tak berkomunikasi ! sms sebulan sekali? Telponan sekali sebulan? Perasaan rindu (begitu gadis itu mengakuinya) macam apa itu? !!!!. aku marah pada gadis itu ketika dia mengatakan itu caranya ketika rindu sudah tak tertahan lagi? Karena dia bilang untuk mengatakan “ayuk ketemu?” terlalu menakutkan. Itu kebohongan macam apa?! Jika rindu tak akan ada gengsi yang membatasi itu jika hubungan baik tetap dilancarkan secara tak langsung komunikasi harus tetap berjalan sesering mungkin bagaimanapun keadaannya. Disaat sudah diujung begini baru gadis itu sibuk membenarkan dirinya, menyalahi priaku. Aku mengerti perasaannya sebagai wanita karena aku pernah berada di posisinya bahkan lebih parah, namun, mencari alasan dengan yang ditulisnya tadi membuat darahku yang juga wanita menggelegak. “Berjuang !” jika ada kemauan apa saja akan dilintasi dengan tetap berdoa pada yang mencipta. Maaf, aku marah padamu, Kak !
Namun perasaanku seharian itu tetap saja tak seperti biasanya. Aku memang begitu, aku emosi pada diriku sendiri yang sempat berpercik cemburu. Kata-kata gadis itu seharian ini selalu mengganggu pandangan dan pikiranku. Meski aku sudah berusaha mengabaikannya dengan menyibukan diri dalam kuliah umum mahasiswa baru. Tapi apa mau dikata, adik priaku datang dari kampung yang juga lulus untuk kuliah umum di universitasku menghubungiku, aku pun sebagai kakak juga menghubunginya. Setidaknya dia mengetahui ada orang yang dia kenal diruangan itu. sepulang dari kuliah umum ia dijemput kembali oleh priaku, setelah hampir setengah jam aku sekedar bertukar pikiran dengan adik laki-laki yang bijak itu. Ketika pria ku tiba dia tetap tersenyum seperti biasanya, lembut, hangat, tapi aku tetap saja terbayang tulisan yang aku baca semalam, sehingga pandangan benci, kesal, dan muaklah yang aku beri. Betapa berdosanya aku, aku sudah berusaha menyembunyikannya sebisa mungkin.
Aku tak memandangnya, tak ingin. Jika kupandang aku kan menangis disana. Aku tau dia memandangku dalam meski dia sedang bercakap dengan temannya disamping. Aku rindu tapi aku juga marah, mungkin bukan padanya tapi hanya saja aku tak mau dia menjadi sasaran kemarahan ku yang bodoh. Jika ku katakana apa yang terjadi dia lagi-lagi akan merasa tak berguna karena aku masih saja seperti tak yakin padanya yang telah berusaha membuktikan ucapannya, mengenalkan melalui cerita, lalu foto dan nyata, keluarganya padaku, aku pada keluarganya. Tak bisa kubayangkan pedihku ketika aku mengingat ibunya yang menitipkan priaku padaku. Aku terharu, lalu terbayang kembali tulisan gadis itu aku tersayat. Aku sendiri tak paham apa yang kurasakan aku merasa begitu jahat pada priaku karena tak mempercayai usahanya yang perlahan namun menyentuh (yah, dasar wanita ! ).
Malam ini, aku berusaha membuatnya untuk tetap tersenyum, meski dia yakin ada yang salah denganku. Priaku mengira aku sedang tak sehat, yah hatiku. Sebisaku tetap bercanda mengalihkan semua perasaan muak ku tetapi ketika salam tidur, dia tetap saja yakin aku tidak seperti biasanya. Lagi dan lagi aku merasa berdosa atas kemarahan tak jelasku. Aku menyayangi priaku, tak sanggup dapat ku teriakan hari ini. Sayang. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar