Biar aku perjelas dahulu, bahwa penari dan lukisan penyair itu sudah lama tak ada. Eh, aku mengatakannya tak pernah ada. Sekarang aku disini, dengan priaku yang penuh banyak kenangan, kesakitan dan tangis. Bukan dia, tapi aku setiap melihat potongan demi potongan kisahnya. Priaku, yang penuh banyak kejutan, tapi tetap saja tersentuh saat hal-hal kecil ku kirimi untuknya.
Priaku, yang tulus, hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa ia tak sejahat tampangnya. Ia lembut, begitu lembut, sehingga akupun begitu memikirkan bagaimana cara membuatnya bahagia. Aku. Meski daftar peninggalanku begitu panjang, bisa tanyakan pada mereka bahwa aku tak pernah main-main. Aku tak memilih dalam sekejap, dan aku pernah melanggarnya lalu keburukanlah yang terjadi. Tapi percayalah, aku bersyukur atas keburukan itu, seakan menjadi alarm peringatan agar aku kembali pada langkah awalku dulu.
Sejak hari itu tak mudah membangun rasa, banyak yang datang lalu kubiarkan mereka pergi begitu saja atau aku yang meminta agar mereka pergi. Semua rasanya kosong, termasuk si Penyair. Maaf kutinggalkan kampung berpayung biru yang kau katakan akan dan telah kita bangun. Namun, tarianku menemui rumah yang nyaman tanpa paksaan dan siksa kampung dengan payung hitam itu.
Priaku, dengan segala teka-teki waktu dari tempat kita memohon.
Kini aku "menyambung" rahasia keundahan waktu yang memisahkan kami, eh, bukan. Membiarkan kami tetap saling berdampingan dan menikmati waktu mencari-cari pada pertemuan.
Teruntuk pria menyeramkan disana :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar