Ini 2015 !
Siang hari menjelang sore, aku berkeringat. Hari itu H-1 menjelang acara besar prodi kampusku, dimana aku tak hanya melatih tapi akan tampil menari mengisi acara pembukaan. Ada seorang pria yang sejak tiga
bulan yang lalu sepintas-sepintas “merayuku” dengan becanda seperti pria
lainnya. Sepintas, cukup dengan 3 atau 4 baris chat namun itu cukup menyegarkan
benakku yang kusut menghadapi seorang lelaki yang saat itu kami saling
menggilai yah mungkin bisa beri penekanan pada kata “kami” karena aku tak yakin
disitu ada “kami”.
Hari itu, hari ketiga setelah aku mengusaikan cerita abstrak
dengan lelaki itu.
“O, jadi
ternyata dia dipanggil abang-abang penebar pesona di kampusnya :D”
Ketikku pada layar blackberry messenger (BBM), yang kumaksud adalah lelaki yang beberapa hari lalu kusudahi cerita dengannya. Lalu, pria yang “merayuku” tadi seperti
sebelum-sebelumnya kembali “merayuku”.
“Jadi,
maafkanlah abang jika abang dipanggil begitu ya, Dinda marah? :D hahaha”
Begitu
commentnya, aku tersenyum (seperti sebelumnya) lalu membalas singkat.
“haha, bukan
abang do baaaang :D”
“eh, abang
kira abang pulak tadi kan :D”
Aku (masih
seperti sebelumnya) selalu membalas agar posisi kami tetap dalam tawa.
“abang tak
perlu tebar pesona pun adek dah meleleh liat abang :D”
aku tertawa sendiri
melihat apa saja yang baru aku tulis dan kukirim padanya.
Balasan ! dia
tertawa…
“aih, adek ni
paling pandai buat abang tersipu :$ :D hahaha”
Aku read saja,
seperti biasa tak pernah kubawa pada percakapan yang panjang. Anehnya aku
tertawa, waktu istirahat itupun seperti ada energi baru yang masuk padaku. Ah,
sudahlah ! ini bukan apa-apa. Hari itu kututup dengan malam yang masih
mengganggu antara penampilanku dengan bayang-bayang percakapan pria tiga hari
lalu.
. . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar