Hari itu
menjelang tengah hari aku menemui temanku, Ana di rumah keponakannya. Percakapan
pun berlangsung dengan penyataan darinya, bahwa salah satu keponakannya adalah
seniorku. Aku yang saat itu adalah mahasiswa baru, tak ambil pusing saat dia
menyebutkan siapa nama keponakannya itu. Tapi sifat penasaranku, tak pernah
hilang. Aku bertanya pada seniorku yang lain yang mana orangnya. Ternyata !
Ah, dia
satu-satunya abang-abang menakutkan yang tak berani kupandang. Sempat berpas-pas
an beberapa kali, dia tak tersenyum, tak bersuara, caranya memandang begitu
seram. Aaah… disaat itu suasana sedang panas-panasnya karena angkatanku membuat
ulah mencari emosi para senior lainnya. Bagaimana aku tak semakin takut, aku
memang berusaha untuk terlihat sopan mengangguk seperti biasanya. Tapi beliau? Ah
sudahlah, terlalu menyeramkan.
Keesokan harinya,
aku kebagian jadwal pagi. Sebagai murid baru hari itu aku terlambat meskipun
kampus masih sepi. Saat aku berbelok dari gang, dan…. Aku berhenti berlari dan
terdiam. Apa yang ada di depan ku membuat ketakutan karena terlambat terlupa
beberapa detik. Aku menarik nafas, ada sosok yang sedang sibuk memasang
sepatunya. Dia belum melihatku, dalam detik itu aku harus putuskan apa aku
berbalik atau bagaimana. Saat keputusan berbalik adalah yang terbaik, ah sial !
dia memandangku.
Baiklah, jika
berlari adalah hal bodoh, mengapa tak kulanjutkan saja langkahku. Setelah sesama
menatap dalam beberapa detik ku tundukan pandangku terus berjalan. Dia masih
saja menatap ku tanpa suara. Menakutkan ! lagi-lagi itu yang ada dibenakku. Saat
dua langkah lagi sampai di depannya.
“Pagi, dek”
Allah ! aku
terdiam, aku memandangnya kikuk. Aku tak percaya suara tadi itu berasal dari
dia.
“Eh, ha, pagi
Bang” rupanya otak ku masih bekerja juga. Baru berencana
meneruskan langkah..
“Masuk apa?”
Aku terpaksa
kembali berbalik sambil menarik nafas.
“Ha, eh, sama Mam Desri bang, Pronunciation.”
“oh, eh Mam Desri di D4 kalau tak salah abang lihat”
Itu berarti
aku harus kembali lewat di depan dia. Ide buruk.
“ha, eh iya ya
bang? Okelah makasi bang.”
“iya dek
sama-sama”
Itu senyum? Ha
itu senyum? Iya, itu senyum !
Sesampainya di
kelas.
“Haaaaah !”
Aku seperti bernafas kembali.
“Ngapa, Nda?”
tanya Dilla teman di sebelahku.
“Ha? Eh, capek
kan abis lari dari parkiran hehe.”
Tidak mungkin
ku ceritakan peristiwa bodoh keterkejutanku tadi. Tiba-tiba aku tersadar, tadi yang menyapa duluan adalah dia. Dia kan. . . senior berarti…
“Damn ! Gue
junior kurang ajar -____-“ Umpatku dalam hati.
Ini pasti
permintaan Ana, karena ku katakan keponakannya itu seram, seperti tentara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar