Kamis, 18 Juni 2015

Kampus

Hari itu menjelang tengah hari aku menemui temanku, Ana di rumah keponakannya. Percakapan pun berlangsung dengan penyataan darinya, bahwa salah satu keponakannya adalah seniorku. Aku yang saat itu adalah mahasiswa baru, tak ambil pusing saat dia menyebutkan siapa nama keponakannya itu. Tapi sifat penasaranku, tak pernah hilang. Aku bertanya pada seniorku yang lain yang mana orangnya. Ternyata !
Ah, dia satu-satunya abang-abang menakutkan yang tak berani kupandang. Sempat berpas-pas an beberapa kali, dia tak tersenyum, tak bersuara, caranya memandang begitu seram. Aaah… disaat itu suasana sedang panas-panasnya karena angkatanku membuat ulah mencari emosi para senior lainnya. Bagaimana aku tak semakin takut, aku memang berusaha untuk terlihat sopan mengangguk seperti biasanya. Tapi beliau? Ah sudahlah, terlalu menyeramkan.

Keesokan harinya, aku kebagian jadwal pagi. Sebagai murid baru hari itu aku terlambat meskipun kampus masih sepi. Saat aku berbelok dari gang, dan…. Aku berhenti berlari dan terdiam. Apa yang ada di depan ku membuat ketakutan karena terlambat terlupa beberapa detik. Aku menarik nafas, ada sosok yang sedang sibuk memasang sepatunya. Dia belum melihatku, dalam detik itu aku harus putuskan apa aku berbalik atau bagaimana. Saat keputusan berbalik adalah yang terbaik, ah sial ! dia memandangku.
Baiklah, jika berlari adalah hal bodoh, mengapa tak kulanjutkan saja langkahku. Setelah sesama menatap dalam beberapa detik ku tundukan pandangku terus berjalan. Dia masih saja menatap ku tanpa suara. Menakutkan ! lagi-lagi itu yang ada dibenakku. Saat dua langkah lagi sampai di depannya.

“Pagi, dek”

Allah ! aku terdiam, aku memandangnya kikuk. Aku tak percaya suara tadi itu berasal dari dia.

“Eh, ha, pagi Bang” rupanya otak ku masih bekerja juga. Baru berencana meneruskan langkah..

“Masuk apa?”

Aku terpaksa kembali berbalik sambil menarik nafas.

“Ha, eh, sama Mam Desri bang, Pronunciation.”

“oh, eh Mam Desri di D4 kalau tak salah abang lihat”

Itu berarti aku harus kembali lewat di depan dia. Ide buruk.

“ha, eh iya ya bang? Okelah makasi bang.”

“iya dek sama-sama”

Itu senyum? Ha itu senyum? Iya, itu senyum !

Sesampainya di kelas.
“Haaaaah !” Aku seperti bernafas kembali.

“Ngapa, Nda?” tanya Dilla teman di sebelahku.

“Ha? Eh, capek kan abis lari dari parkiran hehe.”

Tidak mungkin ku ceritakan peristiwa bodoh keterkejutanku tadi. Tiba-tiba aku tersadar, tadi yang menyapa duluan adalah dia. Dia kan. . . senior berarti…

“Damn ! Gue junior kurang ajar -____-“ Umpatku dalam hati. 


Ini pasti permintaan Ana, karena ku katakan keponakannya itu seram, seperti tentara. 

Tidak ada komentar: