Ini cerpen gua waktu baru tamat-tamat SMP, hihihi ngerasa geli aja ngebaca ulangnya... :D
Puisi Itu Ice Prince
“Kak, gimana perlombaan puisi
minggu depan, apa kak Dimo bersedia jadi co-judge
nya?”. Kata Veli.
“Alhamdulillah, Li beliau bersedia
lagian kenapa kamu yang sibuk, kamu kan bukan panitia”.
“Veli kan ingin lihat idola Veli juga, oh... Kak
Dimo”. Veli bergaya dramatis.
“uuu.... masih kecil woooi..”. Dimas
gemas melihat tingkah juniornya itu dan menimpuk kepalanya dengan majalah.
Veli mengikuti ekskul majalah di
sekolahnya, dan minggu depan ada perlombaan puisi antar kelas.
“Eh, besok kan hari minggu, kakak
ikut festival band, nonton ya?”.
“Insyaallah ya Kak... kalau sempat,
maklum schedule padat hehe.” Kata
Veli becanda.
Veli memang sayang banget dengan
kakak yang satu ini, selain aktif
di organisasi Kak Dimas juga anak band dengan posisi drummer, besok
dia pasti pergi nonton.
Keesokannya Veli memang datang
untuk nonton.
“Kakaaaak...”. Dia teriak di
telinga Kak Dimas.
“Ya Allah.. bisa lebih keras lagi
gak dik”.
Veli cuma nyengir. Dia liatin satu-satu teman-teman satu bandnya Kak Dimas, dia
kenal, tau mukanya. Cuma satu yang dia perhatiin.
“Kakak itu... Kak Sandi.”. Veli
bicara sendiri.
“Ada apa dengan Sandi?”. Kak Dimas
ternyata dengar.
“Gak ada kok”.
“Hayoo... ada apa??”.
“baru gabung ya dia kak?”
“he-eh,
sorry ya kagak bilang-bilang.”
Mereka pun tampil. Ternyata dia
gitaris. Kenapa Kak Sandi? Dia umat yang Veli perhatiin sejak tiga bulan lalu,
waktu itu berkunjung keruangan majalah. Dingin banget, diam aja, datar. Tapi
justru hal itu
yang buat Veli begitu ingin
untuk bisa buat dia ketawa. Sejak itu Veli jadi kepikiran, tiap ketemu dia
selalu lirik tajam. Cuma mau kenal aja kok susah amat sih. Sewot Veli.
Empat hari lalu, lebih hebat lagi.HariituVelimelewati masjid sekolahnya tak ada
firasat apa-apa tiba-tiba“Brukk!” dari sisi dinding yang berlainan.
“Maaf kak !”. Akhirnya kata-kata
itu muncul setelah beberapa detik saling pandang. Dia cuma diam, mengangguk,
membersihkan bajunya dan pergi.
“Bisu apa ya, gak bisa ngomong
dikit aja, bilang “ya” gitu, apa kek”. Veli tak sadar mukanya merona merah karena malu dan deg-degan dengan tatapan sekilas tadi.
Sekarang ! dia disini, sedekat ini, Kak Dimas... kenapa satu band sama dia sih,
rutuk Veli, kesal campur senang, takut plus deg-degan. Sulit dilukiskan dengan kata-kata.
“Veli, take our picture dong, please.”
Kak Dimas minta difotoin bareng teman-teman satu bandnya. Beberapa foto pun
sekarang ada di handphone Veli, yah juga foto diapastinya.
“tag-tag Facebook
ya adik
jelek”. Kata Kak Dimas
“siiip..okeh kakak jelek.”
Sekarang Veli lagi mikirin julukan
apa yang cocok ya buat kakak itu...
“Ice Prince !”. Kata Veli bersemangat. “Pas
banget.”
“Ya Allah kenapa jadi mikirin
dia?”. Sebenarnya sejak kejadian tabrakan itu, tiap hari Veli selalu menunggu pagi dan selalu
datang hampir terlambat. Karena ini jam datang Kak Ice Princenya, biar bisa lihat dia diparkiran.
Hari ini perlombaan puisi. Veli yang juga cinta puisi akhirnya mewakili kelasnya. Tetapi dia bingung apa yang akan ditulis
dengan tema “cinta remaja”,
yang
ada dipikiran Veli saat itu cuma Ice Prince dan Ice Prince, eh Kak Sandi.
Waktunya pun habis akhirnya jadi puisi seperti ini “
|
disuntingnya
lesu musim gugur
ia tidur dalam tumpukan salju
ia serupa
anak panah yang merampas kebisuan
aku seorang
pemabuk, datangilah jiwaku dengan…
setangkup
darah. Siapa yang yang mengkamuskan…
laksa penta
aksara??
marwahmu
mengisi halaman kosong.
lukisan hati
dipentaskan dalam angin musim dingin.. .
sangat
dingin. Sangat ingin. . . .
bekumu
termaktub dalam
kitab
ranji rinduku. . .
|
“Ya Tuhan, kelihatan banget galaunya ! ah biarin ajalah, yang penting akudah buat”. Veli pun mengumpulkan
hasil karyanya yang. . . galau.
Siang ini, Veli ke ruangan majalah,
kaget ! Kak Dimas lagi bareng Kak Sandi. Pura-pura gak lihat aaah. Veli akhirnya nyelonong tanpa melihat, bahkan tidak menyapa Dimas.
Ternyata di dalam membosankan, Veli pun keluar lagi, yang di panggil Ice Prince pun melihat, Veli masih saja pura-pura cuek. Sumpah rasanya
pingin lihat,
akhirnya setelah lewat Veli ngelirik lagi sedikit kebelakang.
Ternyata....
Kak
Sandi
juga lihat
!!!hahaha.
Veli ngakak puas dan langsung
kabur ke kamar mandi, tiba-tiba saja dia
menangis
!. Spontan, selalu saja seperti ini baru sebentar bahagia,
mengingat rasa sakit dibaliknya air mataVeli pun jatuh tanpa diminta.
“Veli sayang kakaak. . .”. Akhirnya
kata-kata itu muncul, diucapkannya dengan sadar.
“Puisi itu kamu.... “sambungnya dengan tersedu.
April hari ke dua empat. Hari ini pengumuman pemenang lomba puisi.
Alhamdulillah inilah hal sepele pun
dapat menjadi
berkah, puisi galaunya Veli menjadi yang pertama alias Velilah pemenangnya.
Veli pun diminta untuk memberi sedikit kata-kata sebagai pemenang. Sebelumnya
ia diminta untuk membaca ulang puisinya dahulu.
“Veli...Veli... siapa sih, orang di
puisi itu?”
“Iya Veli, penasaran ni, Penta
aksara, berarti lima huruf ya, berarti namanya lima huruf dong.”.
Teman-teman Veli sibuk bertanya,
menyerbu Veli. Tapi Veli cuma bilang rahasia sambil senyum.
Veli berlari keruangan majalah berharap Kak Dimas ada disana ternyata tak ada.
Veli pun menangis
sepuasnya, menumpahkan sesak
di dada, sakitnya
mencintai diam-diam begini.
“Ya Allah, kenapa harus dia?”
“Veli”.
Veli kaget, suara siapa? Apa dari
tadi dia disini? Kaget Veli bertambah, setelah melihat itu siapa.
“Kak Sandi....”. Katanya parau.
“Happy birthday, don’t cry, please. That’s make me weak. Its
really hurt me.” Sandi
tersenyum untuk pertama kalinya padaVeli
Ya Allah kalimat pertama, suara
pertama, kata-kata terpanjang dari dia.
“Ice Prince...”. Tanpa sadar dua
kata ini terucap dan Veli makin menangis.
“Come here” Veli hanya terdiam belum sadar dari mimpi
yang dikiranya mimpi.
Sandi mengulangi untuk kedua
kalinya.
“No twice”
Veli berdiri dan berjalan ke arah
Kak Sandi. Kak Sandi memeluk Veli, ini semakin buat Veli shock, makin shock lagi saat
dia bilang gini.
“I know your Ice Prince,
that really match and you know what? You are my sweet little flower.” Kata-kata itu begitu manis terdengar di
telingaVeli dia tak bisa berkata apa-apa. Speechless
“May I ask something?”. Tanya Kak
Sandi. Veli cuma mengangguk sambil berpikir, ini suara jantung kedengaran keluar kagak ya?. Kenceng banget suaranya.
“apa” kata Veli akhirnya.
“do you love me?”.
Waduh...
ini manusia es
main to the point
aja.
“haa, sorry?” Veli kaget.
“do you love me?”. Sandi mengulangi sambil melepas pelukannya dan
menatap mata Veli dalam.
Veli terdiam, luluh.
“jangan di jawab aku udah tahu
jawabannya, hehe” Kata Sandi sambil menyentuh hidung Veli dan kembal imemeluknya, "And so do I" sambungnya.
“Kakak....”
“ya?”
“ini apa maksudnya?”
“apanya?”
“ini...” Kata Veli masih belum
yakin.
“Oh, God.
Kamu sekarang punya kakak, gak ada yang boleh ngambil kamu dari kakak, karena
kakak. . . kakak sayang sama kamu. Adik kecil”. Kata Sandi sambil tersenyum
jail. Veli tidak
marah, malah dia menangis bahagia dipelukan Sandi.
“puisi itu kakak..”. Kata Veli
sambil nangis bahagia.
“iya sayang, udah jangan nangis
lagi ya..”. Sandi menenangkan.
“hayooooooooo...... kalian berdua
ngapain. Gue ketinggalan bagian apaan ni?? Hahaha, eh adek jelek selamat ya
udah menang.” Kata Dimas mengacak-acak
rambut Veli. Dia menatap ke Sandi.
“eh, lu apain adek gue ampe nangis gini, gue kagak ikhlas ngasi dia ke lu kalau
cuma buat lu sakitin.” Dimas
masihsajabercandakarenaadikkecilnyabelumjugatersenyum.
“kakak apaan sih... emang Veli kue
dikasi sana-sini.” Kata Veli manja.
“siiip bos tenang aja, gue bakal
jaga baik-baik adek lu yang bawel ni. “ Kata Sandi dan mereka semua tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar