Senin, 11 Agustus 2014

Ini cerpen gua waktu baru tamat-tamat SMP, hihihi ngerasa geli aja ngebaca ulangnya... :D

Puisi Itu Ice Prince

“Kak, gimana perlombaan puisi minggu depan, apa kak Dimo bersedia jadi co-judge nya?”. Kata Veli.
“Alhamdulillah, Li beliau bersedia lagian kenapa kamu yang sibuk, kamu kan bukan panitia”.
“Veli kan ingin lihat idola Veli juga, oh... Kak Dimo”. Veli bergaya dramatis.
“uuu.... masih kecil woooi..”. Dimas gemas melihat tingkah juniornya itu dan menimpuk kepalanya dengan majalah.
Veli mengikuti ekskul majalah di sekolahnya, dan minggu depan ada perlombaan puisi antar kelas.
“Eh, besok kan hari minggu, kakak ikut festival band, nonton ya?”.
“Insyaallah ya Kak... kalau sempat, maklum schedule padat hehe.” Kata Veli becanda.
Veli memang sayang banget dengan kakak yang satu ini, selain aktif di organisasi Kak Dimas juga anak band dengan posisi drummer, besok dia pasti pergi nonton.
Keesokannya Veli memang datang untuk nonton.
“Kakaaaak...”. Dia teriak di telinga Kak Dimas.
“Ya Allah.. bisa lebih keras lagi gak dik”. Veli cuma nyengir. Dia liatin satu-satu teman-teman satu bandnya Kak Dimas, dia kenal, tau mukanya. Cuma satu yang dia perhatiin.
“Kakak itu... Kak Sandi.”. Veli bicara sendiri.
“Ada apa dengan Sandi?”. Kak Dimas ternyata dengar.
“Gak ada kok”.
“Hayoo... ada apa??”.
“baru gabung ya dia kak?”
“he-eh, sorry ya kagak bilang-bilang.”
Mereka pun tampil. Ternyata dia gitaris. Kenapa Kak Sandi? Dia umat yang Veli perhatiin sejak tiga bulan lalu, waktu itu berkunjung keruangan majalah. Dingin banget, diam aja, datar. Tapi justru hal itu yang buat Veli begitu ingin untuk bisa buat dia ketawa. Sejak itu Veli jadi kepikiran, tiap ketemu dia selalu lirik tajam. Cuma mau kenal aja kok susah amat sih. Sewot Veli.
Empat hari lalu, lebih hebat lagi.HariituVelimelewati masjid sekolahnya tak ada firasat apa-apa tiba-tiba“Brukk!” dari sisi dinding yang berlainan.
“Maaf kak !”. Akhirnya kata-kata itu muncul setelah beberapa detik saling pandang. Dia cuma diam, mengangguk, membersihkan bajunya dan pergi.
“Bisu apa ya, gak bisa ngomong dikit aja, bilang “ya” gitu, apa kek”. Veli tak sadar mukanya merona merah karena malu dan deg-degan dengan tatapan sekilas tadi. Sekarang ! dia disini, sedekat ini, Kak Dimas... kenapa satu band sama dia sih, rutuk Veli, kesal campur senang, takut plus deg-degan. Sulit dilukiskan dengan kata-kata.
“Veli, take our picture dong, please.” Kak Dimas minta difotoin bareng teman-teman satu bandnya. Beberapa foto pun sekarang ada di handphone Veli, yah juga foto diapastinya.
tag-tag Facebook ya adik jelek”. Kata Kak Dimas
“siiip..okeh kakak jelek.”
Sekarang Veli lagi mikirin julukan apa yang cocok ya buat kakak itu...
“Ice Prince !”. Kata Veli bersemangat. “Pas banget.”
“Ya Allah kenapa jadi mikirin dia?”. Sebenarnya sejak kejadian tabrakan itu, tiap hari Veli selalu menunggu pagi dan selalu datang hampir terlambat. Karena ini jam datang Kak Ice Princenya, biar bisa lihat dia diparkiran.
Hari ini perlombaan puisi. Veli yang juga cinta puisi akhirnya mewakili kelasnya. Tetapi dia bingung apa yang akan ditulis dengan tema “cinta remaja”, yang ada dipikiran Veli saat itu cuma Ice Prince dan Ice Prince, eh Kak Sandi. Waktunya pun habis akhirnya jadi puisi seperti ini “


disuntingnya lesu musim gugur
ia tidur dalam tumpukan salju
ia serupa anak panah yang merampas kebisuan
aku seorang pemabuk, datangilah jiwaku dengan
setangkup darah. Siapa yang yang mengkamuskan

laksa penta aksara??
marwahmu mengisi halaman kosong.
lukisan hati dipentaskan dalam angin musim dingin.. .
sangat dingin. Sangat ingin. . . .
bekumu termaktub dalam
kitab ranji rinduku. . . 

Ya Tuhan, kelihatan banget galaunya ! ah biarin ajalah, yang penting akudah buat”. Veli pun mengumpulkan hasil karyanya yang. . . galau.
Siang ini, Veli ke ruangan majalah, kaget ! Kak Dimas lagi bareng Kak Sandi. Pura-pura gak lihat aaah. Veli akhirnya nyelonong tanpa melihat, bahkan tidak menyapa Dimas. Ternyata di dalam membosankan, Veli pun keluar lagi, yang di panggil Ice Prince pun melihat, Veli masih saja pura-pura cuek. Sumpah rasanya pingin lihat, akhirnya setelah lewat Veli ngelirik lagi sedikit kebelakang. Ternyata....
Kak Sandi juga lihat !!!hahaha. Veli ngakak puas dan langsung kabur ke kamar mandi, tiba-tiba saja dia menangis !. Spontan, selalu saja seperti ini baru sebentar bahagia, mengingat rasa sakit dibaliknya air mataVeli pun jatuh tanpa diminta.
“Veli sayang kakaak. . .”. Akhirnya kata-kata itu muncul, diucapkannya dengan sadar.
“Puisi itu kamu.... “sambungnya dengan tersedu.
April hari ke dua empat. Hari ini pengumuman pemenang lomba puisi. Alhamdulillah inilah hal sepele pun dapat menjadi berkah, puisi galaunya Veli menjadi yang pertama alias Velilah pemenangnya. Veli pun diminta untuk memberi sedikit kata-kata sebagai pemenang. Sebelumnya ia diminta untuk membaca ulang puisinya dahulu.
“Veli...Veli... siapa sih, orang di puisi itu?”
“Iya Veli, penasaran ni, Penta aksara, berarti lima huruf ya, berarti namanya lima huruf dong.”.
Teman-teman Veli sibuk bertanya, menyerbu Veli. Tapi Veli cuma bilang rahasia sambil senyum.
Veli berlari keruangan majalah berharap Kak Dimas ada disana ternyata tak ada. Veli pun menangis sepuasnya, menumpahkan sesak di dada, sakitnya mencintai diam-diam begini.
“Ya Allah, kenapa harus dia?”
“Veli”.
Veli kaget, suara siapa? Apa dari tadi dia disini? Kaget Veli bertambah, setelah melihat itu siapa.
“Kak Sandi....”. Katanya parau.
Happy birthday, don’t cry, please. That’s make me weak. Its really hurt me.” Sandi tersenyum untuk pertama kalinya padaVeli
Ya Allah kalimat pertama, suara pertama, kata-kata terpanjang dari dia.
“Ice Prince...”. Tanpa sadar dua kata ini terucap dan Veli makin menangis.
Come here” Veli hanya terdiam belum sadar dari mimpi yang dikiranya mimpi.
Sandi mengulangi untuk kedua kalinya.
No twice
Veli berdiri dan berjalan ke arah Kak Sandi. Kak Sandi memeluk Veli, ini semakin buat Veli shock, makin shock lagi saat dia bilang gini.
I know your Ice Prince, that really match and you know what? You are my sweet little flower.” Kata-kata itu begitu manis terdengar di telingaVeli dia tak bisa berkata apa-apa. Speechless
“May I ask something?”. Tanya Kak Sandi. Veli cuma mengangguk sambil berpikir, ini suara jantung kedengaran keluar kagak ya?. Kenceng banget suaranya.
“apa” kata Veli akhirnya.
do you love me?”.
Waduh... ini manusia es main to the point aja.
“haa, sorry?” Veli kaget.
do you love me?”. Sandi mengulangi sambil melepas pelukannya dan menatap mata Veli dalam.
Veli terdiam, luluh.
“jangan di jawab aku udah tahu jawabannya, hehe” Kata Sandi sambil menyentuh hidung Veli dan kembal imemeluknya, "And so do I" sambungnya.
“Kakak....”
“ya?”
“ini apa maksudnya?”
“apanya?”
“ini...” Kata Veli masih belum yakin.
“Oh, God. Kamu sekarang punya kakak, gak ada yang boleh ngambil kamu dari kakak, karena kakak. . . kakak sayang sama kamu. Adik kecil”. Kata Sandi sambil tersenyum jail. Veli tidak marah, malah dia menangis bahagia dipelukan Sandi.
“puisi itu kakak..”. Kata Veli sambil nangis bahagia.
“iya sayang, udah jangan nangis lagi ya..”. Sandi menenangkan.
“hayooooooooo...... kalian berdua ngapain. Gue ketinggalan bagian apaan ni?? Hahaha, eh adek jelek selamat ya udah menang.” Kata Dimas mengacak-acak rambut Veli. Dia menatap ke Sandi.
“eh,  lu apain adek gue ampe nangis gini, gue kagak ikhlas ngasi dia ke lu kalau cuma buat lu sakitin.” Dimas masihsajabercandakarenaadikkecilnyabelumjugatersenyum.
“kakak apaan sih... emang Veli kue dikasi sana-sini.” Kata Veli manja.
“siiip bos tenang aja, gue bakal jaga baik-baik adek lu yang bawel ni. “ Kata Sandi dan mereka semua tertawa.


. . . . . . . .

Tidak ada komentar: