Penari dan Lukisan Penyair (1)
Dihari
yang dingin tak berpijar ruang, lelaki itu berlari dengan tanpa pemikiran. Ia
hanya maju tanpa melihat kiri kanannya. Tiba-tiba ia berhenti, seseorang
mengalihkan perhatiannya dari ruangan tadi. Percaya atau tidak dia sama sekali
tak mendengarnya, anak matanya menarik sesuatu disampingnya yang tak indah
namun ia tenggelam pada matanya kembali. Bukan dari sini seharusnya mereka
memulai tetapi dari sini.
Lelaki
yang dipenuhi ketakutan akan kunang-kunang itu, mencintai kepekatan dan
gulitanya. Ia memandang ke timur yang basah dengan kerinduan. Dia tak sendiri,
hari itu hari dimana bunga-bunga mekar dengan nyamannya. Dimana lebah
bergantian terbang menari untuk meminum lembutnya merah jambu, oranye dan biru
yang disebar bunga. Hari itu dimana tahun memenuhi setengah hidupnya. ada yang
bertanya mengapa ini tidak seperti biasanya? Di atas kursi santainya dari
belahan dunia lain, tetap mengisinya dengan tanda-tanda bahagia yang memang
bahagia. Begitu sama, begitu satu begitu anugerah. Ditutup dengan sekerat puisi
(ah aku takut mengatakannya) bersahut yang dimulai dari yang berada di belahan
dunia lainnya.
“sepertinya
dia seorang yang tertutup” kata lelaki yang dipenuhi ketakutan itu.
1115
Aku
pengalih kekosongannya, aku penghibur kerapuhan, aku penghias sendu payung
hitamnya. Aku yang meminta? Tidak ! aku tak pernah mencatat ini dalam rombongan
mimpiku. Aku hanya berikan rasa yang orang-orang kampung sana menyebutnya
sayang. Dia yang memberiku kebiasaan untuk yang jadi pengisi kekosonganku,
penghibur rapuhku, penghias senduku. Hari itu sudah keberapa kalinya aku
memandang langit dengan pelanginya yang tak beranjak. Aku suka cara langit yang
serius tapi sebenarnya manja. Aku dituntun jika ada dia, aku dituntun untuk
menjadi bintang penghias mendung, aku diajarkan untuk menjadi bintang yang
tetap ada meski matahari tak kan pernah terkalahkan. Aku, terbiasa untuk
menjadi aku bintang yang dibiasakannya.
1115
Baru
disini episode yang disebut sehabis eksposisi itu. Hari itu daun-daun berguguran,
salju mulai menghias tapi kita hanya menerima rintikannya. Ruangan yang
ditujunya tadi adalah pusat kesenangan lelaki itu di belahan dunia sini. Ada
yang digegasnya tapi dia sempat singgah untuk membiarkan anak matanya menelaah
sosok yang entah kapan dia temukan. Lalu dia hilang, menghilang. Sekembalinya
kelam ia reguk kembali nikmat awal senja. Dalam kebingungan dia berunding
dengan hati dan fikirannya. Apa yang ditinggalkan sosok tadi? Semacam ada yang
terpaut darinya.
Dalam
gelisahnya, ia melakukan kebiasaannya yang norak. Menulis. Ia tuliskan ber
bab-bab dalam fikiran, berlembar-lembar ketidakyakinan di hati dan sebait pada
layar penghubungnya ke dunia seberang. Haruskah aku? Tanyanya pada gelisahnya.
Ia menuangkan
gelisahnya dalam pekat di hadapan dan pekat yang menyelubunginya. Lelaki itu
begitu cuek, masa bodoh begitu perawakannya. Siapa yang akan merenggut
perawakan ini, sosok di seberang tadi, aaah dini hari ! betapa ia terlalu letih menari pada hati
istri-istri yang dipenuhi keraguan.
1115
Dan
begitu pula di belahan dunia sana ruangan itu menjadi pusat penghapus bosanku. Aku
berlalu tanpa meninggalkan rasa selain senang yang tipis tapi begitu meledak.
Aku memandangnya hilang di belokan ruangan, lalu aku kembali pada hujan dan
panggungku. Sepulangnya, aku memeriksa layar penghubung selintas dan sosok yang
aku temui sore tadi menulis sebait. Tak berniat apa-apa tapi aku hanya
tersenyum dan terpaku semacam ada keterkaitan. Lalu, aku yang tak pernah tepikirkan
siapa-siapa, mengabaikannya. Eh, tidak aku mengabadikannya. Pengabadian
pertama? Iya mungkin jawabku.
Ah, siapa
yang bertanya?
Aku
melanjutkan waktu yang diberikan sehangat mentari pagi dengan kerinduan yang
tak bertuan. Aku menyimpan simpul senyum pada dua malaikat kembarku di kampus.
Untuk apa kuceritakan simpul itu, simpul yang tak ada sambungannya. Aku
membawanya hingga senja mengulum kelelahanku.
1115
Mengapa
keceriaan ruangan ini tak seperti biasanya? Apa yang terenggut dari lelaki itu
hingga ia tak bisa bernafas dengan tenang dalam hangat pagi. Seorang teman
perempuan menyapanya dengan deretan gigi yang mengajaknya untuk hanyut dalam
gembiranya. Seorang teman itu heran, apa yang salah dengan lelaki ini siapa
yang menghadirkan kerut di fikirnya?.
Lelaki
itu pulang dengan setumpuk ragu, ia harus memulai untuk menghilangkan sesaknya.
Dengan perasaan polos sehabis dari sujud senjanya dia memberi salam, dan…
terkirim !
Betapa ia
terkejut melihat layar penghubungnya, apa yang sudah ia lakukan. Dinding kosnya
runtuh perlahan menimpanya selama menunggu balasan dari dunia sebelah. Lelaki
itu mengeluarkan desah kebodohannya dan pertanyaan lainnya. Untuk sebagian lahir, lega menyapanya karena
ia sudah menulis ! yah, yang penting ia sudah menulis. Itu saja katanya
memantapkan waktu yang melempar belasan pisau-pisau tajam dari dunia sebelah
selama ia menunggu.
1115
Aku,
dalam mukena biruku dihadiahi ketenangan setelah aku berkisah tentang hariku
pada sang maha ketenangan. Tak ada yang kupikirkan selain pandangan kosong pada
langit-langit kamar yang juga ikut tersenyum. Tak seperti biasanya, tanyaku.
Aku membuka sambungan novel langit di kasurku, sejenak aku sibuk dengannya dan terlupa
menyapa layar penghubungku. Isya pun memanggil. Kumandang azan manyapaku untuk
bertenang sejenak dalam sujud dan pujian-pujian agung pada sang penghidup
matahari. Setelah ku khatamkan waktu nikmatku, seperti biasanya aku kembali
pada layar penghubungku. Tiba-tiba saja simpulku terusik untuk menyimpul lebih
kuat lagi. Sosok di dunia sebelah memberi salam pertamanya.
Aku hanya
tertawa lebih keras karena dia memang seperti salam pertamanya dulu. Lugas,
haus aroma mawar penghapus rapuh, dan menjadi dirinya sendiri. Bukankah aku
terlalu cepat? Betapa aku bosan selalu menjadi gadis yang sok tahu. Kapan
kebiasaan buruk ini hilang?
Oke
baiklah, aku mulai rindu layar penghubungku. Kudapati simpul kemarin semakin menguat
lagi hari ini. (Bersambung)
1115
Tidak ada komentar:
Posting Komentar