Kamis, 22 Januari 2015

Penari dan Lukisan Penyair (1)

Dihari yang dingin tak berpijar ruang, lelaki itu berlari dengan tanpa pemikiran. Ia hanya maju tanpa melihat kiri kanannya. Tiba-tiba ia berhenti, seseorang mengalihkan perhatiannya dari ruangan tadi. Percaya atau tidak dia sama sekali tak mendengarnya, anak matanya menarik sesuatu disampingnya yang tak indah namun ia tenggelam pada matanya kembali. Bukan dari sini seharusnya mereka memulai tetapi dari sini.
Lelaki yang dipenuhi ketakutan akan kunang-kunang itu, mencintai kepekatan dan gulitanya. Ia memandang ke timur yang basah dengan kerinduan. Dia tak sendiri, hari itu hari dimana bunga-bunga mekar dengan nyamannya. Dimana lebah bergantian terbang menari untuk meminum lembutnya merah jambu, oranye dan biru yang disebar bunga. Hari itu dimana tahun memenuhi setengah hidupnya. ada yang bertanya mengapa ini tidak seperti biasanya? Di atas kursi santainya dari belahan dunia lain, tetap mengisinya dengan tanda-tanda bahagia yang memang bahagia. Begitu sama, begitu satu begitu anugerah. Ditutup dengan sekerat puisi (ah aku takut mengatakannya) bersahut yang dimulai dari yang berada di belahan dunia lainnya.
“sepertinya dia seorang yang tertutup” kata lelaki yang dipenuhi ketakutan itu.
1115
Aku pengalih kekosongannya, aku penghibur kerapuhan, aku penghias sendu payung hitamnya. Aku yang meminta? Tidak ! aku tak pernah mencatat ini dalam rombongan mimpiku. Aku hanya berikan rasa yang orang-orang kampung sana menyebutnya sayang. Dia yang memberiku kebiasaan untuk yang jadi pengisi kekosonganku, penghibur rapuhku, penghias senduku. Hari itu sudah keberapa kalinya aku memandang langit dengan pelanginya yang tak beranjak. Aku suka cara langit yang serius tapi sebenarnya manja. Aku dituntun jika ada dia, aku dituntun untuk menjadi bintang penghias mendung, aku diajarkan untuk menjadi bintang yang tetap ada meski matahari tak kan pernah terkalahkan. Aku, terbiasa untuk menjadi aku bintang yang dibiasakannya.
1115
Baru disini episode yang disebut sehabis eksposisi itu. Hari itu daun-daun berguguran, salju mulai menghias tapi kita hanya menerima rintikannya. Ruangan yang ditujunya tadi adalah pusat kesenangan lelaki itu di belahan dunia sini. Ada yang digegasnya tapi dia sempat singgah untuk membiarkan anak matanya menelaah sosok yang entah kapan dia temukan. Lalu dia hilang, menghilang. Sekembalinya kelam ia reguk kembali nikmat awal senja. Dalam kebingungan dia berunding dengan hati dan fikirannya. Apa yang ditinggalkan sosok tadi? Semacam ada yang terpaut darinya.
Dalam gelisahnya, ia melakukan kebiasaannya yang norak. Menulis. Ia tuliskan ber bab-bab dalam fikiran, berlembar-lembar ketidakyakinan di hati dan sebait pada layar penghubungnya ke dunia seberang. Haruskah aku? Tanyanya pada gelisahnya.
Ia menuangkan gelisahnya dalam pekat di hadapan dan pekat yang menyelubunginya. Lelaki itu begitu cuek, masa bodoh begitu perawakannya. Siapa yang akan merenggut perawakan ini, sosok di seberang tadi, aaah dini hari !  betapa ia terlalu letih menari pada hati istri-istri yang dipenuhi keraguan.
1115
Dan begitu pula di belahan dunia sana ruangan itu menjadi pusat penghapus bosanku. Aku berlalu tanpa meninggalkan rasa selain senang yang tipis tapi begitu meledak. Aku memandangnya hilang di belokan ruangan, lalu aku kembali pada hujan dan panggungku. Sepulangnya, aku memeriksa layar penghubung selintas dan sosok yang aku temui sore tadi menulis sebait. Tak berniat apa-apa tapi aku hanya tersenyum dan terpaku semacam ada keterkaitan. Lalu, aku yang tak pernah tepikirkan siapa-siapa, mengabaikannya. Eh, tidak aku mengabadikannya. Pengabadian pertama? Iya mungkin jawabku.
Ah, siapa yang bertanya?
Aku melanjutkan waktu yang diberikan sehangat mentari pagi dengan kerinduan yang tak bertuan. Aku menyimpan simpul senyum pada dua malaikat kembarku di kampus. Untuk apa kuceritakan simpul itu, simpul yang tak ada sambungannya. Aku membawanya hingga senja mengulum kelelahanku.
1115
Mengapa keceriaan ruangan ini tak seperti biasanya? Apa yang terenggut dari lelaki itu hingga ia tak bisa bernafas dengan tenang dalam hangat pagi. Seorang teman perempuan menyapanya dengan deretan gigi yang mengajaknya untuk hanyut dalam gembiranya. Seorang teman itu heran, apa yang salah dengan lelaki ini siapa yang menghadirkan kerut di fikirnya?.
Lelaki itu pulang dengan setumpuk ragu, ia harus memulai untuk menghilangkan sesaknya. Dengan perasaan polos sehabis dari sujud senjanya dia memberi salam, dan… terkirim !
Betapa ia terkejut melihat layar penghubungnya, apa yang sudah ia lakukan. Dinding kosnya runtuh perlahan menimpanya selama menunggu balasan dari dunia sebelah. Lelaki itu mengeluarkan desah kebodohannya dan pertanyaan lainnya.  Untuk sebagian lahir, lega menyapanya karena ia sudah menulis ! yah, yang penting ia sudah menulis. Itu saja katanya memantapkan waktu yang melempar belasan pisau-pisau tajam dari dunia sebelah selama ia menunggu.
1115
Aku, dalam mukena biruku dihadiahi ketenangan setelah aku berkisah tentang hariku pada sang maha ketenangan. Tak ada yang kupikirkan selain pandangan kosong pada langit-langit kamar yang juga ikut tersenyum. Tak seperti biasanya, tanyaku. Aku membuka sambungan novel langit di kasurku, sejenak aku sibuk dengannya dan terlupa menyapa layar penghubungku. Isya pun memanggil. Kumandang azan manyapaku untuk bertenang sejenak dalam sujud dan pujian-pujian agung pada sang penghidup matahari. Setelah ku khatamkan waktu nikmatku, seperti biasanya aku kembali pada layar penghubungku. Tiba-tiba saja simpulku terusik untuk menyimpul lebih kuat lagi. Sosok di dunia sebelah memberi salam pertamanya.
Aku hanya tertawa lebih keras karena dia memang seperti salam pertamanya dulu. Lugas, haus aroma mawar penghapus rapuh, dan menjadi dirinya sendiri. Bukankah aku terlalu cepat? Betapa aku bosan selalu menjadi gadis yang sok tahu. Kapan kebiasaan buruk ini hilang?
Oke baiklah, aku mulai rindu layar penghubungku. Kudapati simpul kemarin semakin menguat lagi hari ini. (Bersambung)  

1115

Tidak ada komentar: