Kamis, 22 Januari 2015

Tak ku-te-mu-kan

4 Januari 2015 pukul 4:01
Salahkan aku atas
ketidakmengertian ini, tah sejak
bila percakapan sederhana ini
menjadi potongan perhatian
yg juga sama...
sederhana. pertanyaan tak bertanda baca itu
juga sama ingin kuletakan atas peletakan rasa.
sayang.
menemanimu mengecup kelam
teriris dalam kalutmu
rindu dalam rindumu
maaf,
aku menggunakan semuanya menjadi
kebiasaan tanpa izinmu, hingga
takut yg tak kumengerti pun hadir.
takut untuk ketakutan itu... aku
benci untuk sa-dar-kan-nya, sayang...
lagi, apa yg terbalut dalam kata itu,
apa sejak tatapan pertama dengan
ketidaksopananku "hey, akhirnya ketemu jugaaa" melihat kekakuan si
pemilik mata sipit itu mengupas
senyumku.
apa sejak kabar pertamanya
sehabis senja, "sejak pertemuan pertama tadi, ada bimbang yg aku
bawa pulang, sayang !"
ntah bagaimana keyakinan menyakinkanku untuk yakin bahwa disana
ada kita.
apa sejak mengetahui kemanisan pada jiwa murni yg kusut itu
dalam pekat dan mengabarkan "done ! selamat belajar mbak penari semoga ujian besok sukses !! :D"
sejenak angin lupa mengalarmkan
padaku, ini dini hari !
terbiasa
aku...
terbiasa untuk...
nyaman, kata yg membuatku
mengubrakabrik kamus pengertianku.
hey, sayang !
hari ini, sayuran itu menjadi alasan. betapa beruntungnya ladang itu
menjadi saksi bodohku yang tak berkutik ditempatmu. apa yang
kulakukan, aku berbalik dan mendapatimu, menantiku hilang di persimpangan.
dan aku...
ah, aku berulang kali masih menatap kebelakang. sayang...
percaya padaku, saat itu aku bahkan
tak merasakan angin yg mengabarkan kedatang hujan, lantunan ayat yg berlomba-lomba membunuh bisuku,
aku... jatuh (mungkin kau tahu kata selanjutnya)

oh, masih dalam lingkup "sayang"
kita masuki fase baru, kau berhasil mengambil jiwa rindu ku,
apa itu, kau bilang ada yang salah dengan tenggorokanmu
tapi kau hadiahi malamku dengan lagu rindu,
dan aku...
lagilagi dengan keluguan, ada yg berdesir disini.
inikah kehangatan? aku membeku dari sekitarku yg berkipas...
aku..
rindu, seakan ada menjawab rinduku, apa kau mengetahuinya,
sayang?
lagu rindumu menyentakku agar
mencari tikar suciku, dan melaporkan kerinduanku
malam itu, aku,,, bahagia
begitu orang" kampung kedamaian menyebutnya,

dan hari ini, aku lebih..
masih di dinding percakapan kita,
kau lupa arti tidur hari itu,
aku ingin disana.
menemanimu dengan sepiring biskuit semangat,
secangkir teh kehangatan. aku ingin disana...
kau hanya perlu menyahut
"kemari, bunuh kunang-kunang ini untukku" dan aku.. lagi...
melakukannya !

hari ini, aku lupa sudah berapa "hari ini" yang ku peluk
untuk membentuk "kita"
kau membuat rinduku tak nyaman bersembunyi lagi, terbuncah begitu saja selesai kelas grammarku..
"percaya padaku aku lelakimu"
hey, bodoh ! dia lupa atau bagaimana? ia akan pergi esok,
dia (masih) saja tetap menyiksaku. dia datang ! disini, saat aku bermainmain dengan selendangku,
sahut bersahut godaan membuatku mati dalam rona yg tah darimana asalnya.
ditutup dengan menatapnya dalam senja.
ada sendat dalam tanyaku. ingin ku muntahkan rindu yang memuakan ini.
tapi kegilaan yg kupelajari. tahan, hanya beberapa hari. biarkan dia menemui kerinduan abadinya.
dan aku pun...
tersenyum, melihatnya hilang ditikungan airmata.

malammalam selanjutnya, aku dipeluk rindu, ditertawakan bintang di teras kamarku, "aku lelakimu"
menyayat tajam dalam kolaborasi lagu rindu. aaah...
kecaman macam apa ini,
mengapa begitu sakit dan
mendamba... dan tanpa kupinta, kita memandang bintang yang sama.

hey, berita macam apa ini? apa kau ingin membunuhku??
sepanjang terang hingga ia bertemu kelam kau acuhkan
dan datang-datang kau memberi berita
"aku takut saja nantinya kita akan saling meninggalkan, selamat tidur !"
(maafkan lagu rindu yang ku kirim)
kau tahu, saat itu aku sangat ingin membunuhmu ! dan lagi... aku bosan
mengatakannya,
kebodohanku yg dilumat dentumdentum rindu, memintamu
utk membantahnya.
dan kau tertawa angkuh "I try, You try and We try"
hari itu, aku merasa benar milikmu, utuh.

dan hari ini, kita memulai untuk mengatakn hari ini.
dibawah riuh terompet dan anggun kembang api sang pengusik lelap
aku bertanyatanya pada layar penghubung kita
mengapa kau tertawa?
mengapa kau mau mengalah?
mengapa kau seperti membiarkanku berekspresi?
akhirnya, (oh bukan ini awal yg kita mulai dari pertengahan)
di waktu yg menyatukan kita, kau membuat lapisan benteng rindu
yg menebal tiap harinya luruh dengan mudah..
hari itu aku tak ingin memeluk sakitku (lagi)
aku ingin memeluk senyummu.
kau tau aku akan mengabarkan pagi
padamu, hanya kau menunggu deal dari waktu
agar aku benarbenar menangis,
kau betulbetul brengsek ! (aku menciummu)
malamnya,
kau kenalkan sapaan baru yang harus kukenakan
aku...asing, maafkan untuk malam pertama kita...

malam ini, lagi... dalam gulungan kumandang senja, aku menyakini
aku akan melakukannya...
untukmu..
untuk kita...

dan hey, lihat aku melakukannya..
aku benarbenar bergetar hebat...dan makin bergetar, saat kau membalasnya
tanpa gambaran apapun yang mengikutinya
"selamat tidur juga sayang, bangunkan pagi pagi ya kalau kamu kebangun duluan"

yah, baiklah mungkin aku tau
aku menyayangi sejak pertama kali mata sipit itu kutemukan dalam
gerimis...
bukan...
aku...
mencin... (akupun tak tahu itu apa)
esok ia pulang !
akan kujemput ia dengan sejuta rindu yang luruh yang mengalir dalam sungai kehangatan yang sedang ia bangun
kali ini kita tak boleh terbisu, aku...
ingin menghabiskan malammalam
kita selanjutnya dengan kita yang (sebenarnya) begitu
berisik..




Tidak ada komentar: